Oleh: Prima Adhyaksantara

Pelaksanaan pendidikan di Negara Indonesia tentu tidak mungkin terlepas dari tujuan pendidikan itu sendiri, sebab pendidikan yang ada ialah pendidikan yang dilakukan demi kepentingan bangsa dan Negara. Namun, saat ini standar dan kompetensi yang ada seolah hanya keranjingan pada standar dan kompetensi yang ada, sehingga banyaknya kesenjangan antara yang cerdas dan tidak cerdas hanya karena kurangnya pemenuhan teori dengan praktek atau pengaplikasikan dilapangan sehingga banyaknya yang cerdas namun tidak memiliki pengalaman sehingga banyaknya pengangguran.

Mungkin rasanya sudah pasti mustahil untuk menjadi seorang menteri pendidikan di negara kita yaitu Indonesia, karena sebagian besar dari sistem pemerintahan saja sudah sangat keliru apalagi sistem pendidikan. Tetapi seandainya aku dipilih menjadi seorang menteri pendidikan, maka yang harus aku lakukan pertama kali adalah membenahi, membenarkan dan merombak ulang setiap sistem pendidikan dan kurikulum yang ada dan mengadopsi dan memodifikasi cara mengajar dan belajar Negara yang berpendidikan berkualitas tanpa menghilangkan dan menggantikan unsur kurikulum dan pembelajaran yang masih ada serta memfokuskan pada minat dan bakat pelajar dan tenaga pengajar serta pengembangan karakter yang baik bagi mereka.

Kedua, saya akan lebih menekankan pendidikan wajib terhadap para pelajar yang putus sekolah dan pengamen di bawah umur yang harus tidak bersekolah karena biaya yang tidak mencukupi. Hal ini dapat saya lakukan dengan memberikan beasiswa yang benar-benar diberikan kepada keluarga yang tidak mampu dan memperhatikan kesejahtaraan guru karena gurulah yang mengajarkan arti penting menjadi seseorang yang berpendidikan baik intelektual dan bermoral , serta menguji calon guru.

Ketiga, menyeimbangkan kelima sumber kecerdasan seseorang yaitu IQ (Intelegence Quotient), EQ (Emotional Quotient), CQ (Creative Quotient), SQ (Spritual Quotient), dan AQ (Adversity Quotient) sejak masih anak-anak hingga dewasa agar dapat menjadi pemimpin yang tidak hanya cerdas dalam intelektualnya, melainkan juga kuat dalam hal spritual, dapat mengendalikan emosionalnya, lebih kreatif dalam berbagai, serta pantang menyerah dalam melakukan suatu hal yang dapat meningkatkan hak, martabat, dan derajat bangsa Indonesia.

Keempat, mengembalikan kembali mata pelajaran mulok (muatan lokal) yang membahas tentang bahasa, sosial dan kebudayaan, serta ciri khas lain dari kampung halamannya. Hal ini bertujuan agar kebudayaan khas Negara Indonesia yang terdiri atas beribu suku dan budaya tidak hilang dari permukaan dikarenakan tidak hanya memiliki tuntutan untuk menguasai bahasa Indonesia serta bahasa asing yang menjadi bahasa Internasional saja namun juga dapat berbahasa daerah dan mempelajarinya.

kelima, jika saya dipilih menjadi Menteri Pendidikan Indonesia, saya akan menciptakan generasi yang tidak melupakan, mengabaikan sejarah dari kemerdekaan negaranya ini, Kemerdekaan Negara Republik Indonesia, namun terus mengingatnya.

Dan yang terakhir, ketika saya dipilih menjadi Menteri Pendidikan Indonesia, saya ingin sistem pendidikan hanya mengabdi pada pengetahuan, moral dan Negara, bukan pada putusan oknum dinas pendidikan. Namun ingatlah, karena itu hanyalah angan – angan mimpiku saja.

Categories: Esai 2019

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *