Oleh: Winda Hendayanti – SMAN 1 Klari

Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan umumnya dibagi menjadi tahap seperti prasekolah, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, dan kemudian perguruan tinggi. Tujuan pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan SDM di Indonesia dengan semaksimal mungkin. Pendidikan harus mampu mempersiapkan warga negara agar dapat berperan aktif dalam seluruh bagian dikehidupan, cerdas, aktif, kreatif, terampil, jujur, berdisiplin, bermoral tinggi, demokratis, dan toleran. Dan pendidikan di Indonesia merupakan prioritas utama yang harus ditingkatkan. Maka dari itu peran pemerintah sangat penting untuk mendukung pendidikan di Indonesia.

Permasalahan tentang rendahnya mutu pendidikan di Indonesia, karena sistem pendidikan yang selalu berubah-ubah dan dapat dikatakan tidak seimbang. Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia antara lain adalah masalah efektivitas, efesiensi, dan standardisasi pengajaran. Dan seharusnya permasalahan tersebut dapat diatasi oleh menteri pendidikan.

Pendidikan di Indonesia masih memiliki beberapa kendala yang diantaranya ketersediaan sarana dan prasarana yang masih terbatas, kualitas guru yang dinilai masih kurang, dan kurikulum pendidikan pun menjadi permasalahan.

Menyikapi hal seperti ini, tentunya ada sesuatu yang harus diubah dalam sistem pendidikan di Indonesia. Dan sebagai generasi penerus bangsa yang tentunya pernah merasakan suka duka dalam menempuh bangku sekolah, saya ingin sekali memajukan pendidikan di Indonesia. Jika saya menjadi menteri pendidikan Indonesia, saya akan merubah semua, karena dalam pembelajaran yang dibutuhkan adalah praktek dan pengertian akan proses dalam belajar.

Pertama, masalah sarana dan prasarana. Masalah ini kurang diperhatikan serius oleh pemerintah. Jika saya menjadi menteri pendidikan di Indonesia, saya akan menyediakan fasilitas yang memadai sehingga dapat menunjang pendidikan di Indonesia secara lengkap. Dan akan melakukan pemerataan sarana dan prasarana di sekolah-sekolah yang ada di pelosok desa.

Kedua, jika saya menjadi menteri pendidikan, saya akan meningkatkan kualitas guru. Di era ini sudah banyak siswa dan siswi yang lebih pintar dan kritis dibandingkan para pengajar. Untuk mencegah adanya guru yang diremehkan oleh para siswa, saya sangat mengharapkan setiap guru yang akan mengajar harus benar-benar menguasai bidang yang akan diajarkan kepada murid-muridnya.

Ketiga, kasus putus sekolah anak-anak di Indonesia juga masih tinggi. Hal ini disebabkan oleh tiga faktor, yaitu faktor ekonomi, anak-anak terpaksa bekerja untuk mendukung ekonomi keluarga, dan pernikahan dini. Hal ini dapat kita lakukan dengan benar-benar memberikan beasiswa kepada keluarga yang tidak mampu.

Keempat, kurikulum pendidikan yang akan kita pakai yaitu kurikulum 2013. Menurut saya sendiri, kurikulum 2013 ini baik. Karena kurikulum ini menjadikan siswa lebih aktif serta kreatif. Ditambah lagi dengan adanya nilai-nilai keagamaan dalam segala bidang dapat menjadikan para siswa lebih berakhlak. Jika saya menjadi menteri pendidikan, saya akan menyempurnakan kurikulum yang sudah ada tanpa harus menggantinya dengan yang baru. Dan kurikulum 2013 inilah yang akan kita fokuskan dalam pendidikan.

Kelima, mengembalikan mata pelajaran muatan lokal yang membahas tentang bahasa, kebudayaan, serta ciri khas lain dari kampung halaman. Kebijakan yang berkaitan dengan dimasukkannya program muatan lokal, agar peserta didik dapat mengetahui bahwa Indonesia terdiri atas berbagai daerah dengan beranekaragaman kondisi geografis, sumber daya alam, dan masyarakat dengan latar belakang sejarah dan kebudayaan yang bervariasi. Oleh karena itu, program pendidikan perlu memberikan wawasan yang luas kepada peserta didik tentang kekhususan yang ada di lingkungannya melalui pembelajaran muatan lokal.

Keenam, saya akan lebih menekankan pendidikan karakter dalam pendidikan di Indonesia. Banyaknya permasalahan kenakalan remaja di Indonesia diakibatkan kurang seriusnya pemerintah dan tenaga pendidik dalam menjalankan dan melakukan kontrol dalam pelaksanaan pendidikan karakter yang diterapkan diberbagai sekolah di Indonesia. Memang membentuk siswa yang berkarakter itu bukan suatu upaya mudah dan cepat. Karena itu dengan adanya pendidikan karakter, para personil sekolah, orang tua, dan anggota masyarakat dapat membantu anak-anak dan remaja agar memiliki sifat peduli, berpendirian, dan bertanggung jawab. Ada lima unsur yang harus dikembangkan untuk membentuk karakter, yaitu sikap, emosi, kemauan, kepercayaan, dan kebiasaan. Namun demikian, kita harus tetap memegang konsep bahwa pendidikan sebagai agent of change. Kita harus mampu mengubah karakter yang baik, dan mengembangkan karakter menjadi lebih baik lagi. Oleh karena itu, pembentukan dan pendidikan karakter harus terjalin hubungan antara guru, keluarga, dan masyarakat agar adanya kesinambungan dan keharmonisan. Dan andai saya menjadi menteri pendidikan, saya ingin mewujudkan pendidikan karakter yang berkualitas dan kita gunakan alat ukur yang benar sehingga ada evaluasi dan tahu apa yang harus diperbaiki.

Di sisi lain, proses globalisasi telah membuat perubahan-perubahan besar dalam bidang pendidikan. Bagi kita yang peduli dengan dunia pendidikan, pasti menyadari kebesaran seorang Ki Hajar Dewantara yang telah menanamkan nilai-nilai luhur bagi perkembangan dunia pendidikan di tanah air. Tetapi amat disayangkan, pendidikan saat ini cenderung menghasilkan orang-orang pandai dan cerdas, tetapi kurang pandai dan cerdas dalam perasaan. Sehingga terjadilah hal-hal yang menyimpang dari tujuan pendidikan semula, seperti tawuran diantara sesama pelajar. Di era globalisasi ini memiliki sisi positif dan negatif dalam pelaksanaannya. Dari segi positifnya dapat disimpulkan bahwa globalisasi membawa keterbukaan informasi yang semakin mudah dan cepat. Dan dari segi negatif dapat disimpulkan globalisasi membawa pada mulai pudarnya budaya lokal yang tercampur budaya asing. Andai saya menjadi menteri pendidikan, saya akan mengajak para peserta didik agar mencintai produk-produk lokal, memahami nilai-nilai Pancasila dengan baik, dan menyaring budaya asing sesuai dengan panduan nilai, norma, dan keyakinan agama.

Dari pembahasan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kita harus memajukan pendidikan di Indonesia. Kinerja Mendiknas saat ini juga telah bagus dengan memberi banyak beasiswa kepada rakyat kecil. Andaikan saja saya menjadi menteri pendidikan Indonesia, hal-hal tersebutlah yang akan saya ubah dalam sistem pendidikan di Indonesia. Dan saya juga akan menerapkan konsep dari buah pikiran Ki Hajar Dewantara yang terdapat pada (Buku Pusara, 1940), yaitu:

  1. “Rakyat perlu diberi hak dan kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan berkualitas sesuai kepentingan hidup kebudayaan dan kepentingan hidup kemasyarakatan.”
  2. “Jangan menyeragamkan hal-hal yang tidak perlu dan tidak bisa diseragamkan. Perbedaan bakat dan kehidupan anak dan masyarakat yang satu dengan yang lain harus menjadi perhatian dan diakomodasi.”
  3. “Anak-anak tumbuh berdasarkan kekuatan kodratinya yang unik, tak mungkin pendidikan ‘mengubah padi menjadi jagung’ atau sebaliknya.”

Tiga pemikiran Ki Hajar Dewantara tersebut perlu kita renungkan dan juga penting bagi kita sebagai salah satu pedoman dalam pelaksanaan pendidikan di Indonesia saat ini.

Categories: Esai 2019

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *