Oleh: Hana Rafidah – Homeschooling

I. PENDAHULUAN

            Pada tahun 2020, Indonesia akan mengalami bonus demografi, yaitu suatu fenomena langka berupa sangat besarnya jumlah penduduk usia produktif dengan rentang usia 15-64 tahun. Jumlah usia produktif diperkirakan akan mencapai angka 70 persen dibandingkan dengan penduduk usia tidak produktif yang berjumlah 30 persen. Hal ini akan sangat menguntungkan Indonesia jika penduduk usia produktif menjadi Sumber Daya Manusia yang berkualitas dan mampu turut serta untuk menjadikan Indonesia negara maju dalam berbagai sisi, terutama ekonomi. Apabila negara kita bisa memanfaatkan peluang besar ini sebaik mungkin, tidak menutup kemungkinan bahwa Indonesia benar-benar menjadi negara maju dan kita patut bersyukur atas anugerah tersebut. Namun, bonus demografi dapat berubah menjadi bencana demografi jika penduduk usia produktif tidak berkualitas dan malah membebani negara, angan-angan Indonesia berada di puncak keemasan bisa berbanding terbalik. Realita akan berbicara dan menempatkan Indonesia di puncak masalah, seperti ledakan pengangguran dan maraknya kriminalitas. Selain itu, berdasarkan perkiraan Badan Pusat Statistik, bonus demografi Indonesia akan berahir di tahun 2036. Peluang ini perlu kita manfaatkan sebaik-baiknya selagi waktu masih ada.

            Oleh karena itu, sudah sepatutnya Indonesia berbenah diri, terutama di bidang pendidikan. Opini saya, pendidikan adalah aspek terpenting dalam kemajuan Indonesia. Pendidikan dapat membangun wawasan, pola pikir, dan karakter kita. Tidak hanya untuk mensukseskan peluang bonus demografi, tapi manfaat dari tertatanya pendidikan yang berkualitas akan bermanfaat dan memunculkan pula generasi yang berkualitas. Generasi yang akan memegang tongkat estafet dari generasi sebelumnya, dengan amanat untuk meneruskan Indonesia ditangannya. Generasi yang meneruskan masa depan bangsa. Pertanyaannya, masa depan itu akan baik atau buruk di tangan kami? Sudah barang tentu kita harus optimis dengan jawaban bahwa generasi penerus bisa memajukan Indonesia. Maka dari itu, kami membutuhkan bantuan dan dorongan dari berbagai aspek kehidupan untuk menjadikan kami generasi penerus yang bisa memajukan Indonesia dengan segala tantangan yang harus kami hadapi di kemudian hari. Kualitas kami tercermin dari kualitas pendidikan. Pendidikan adalah kunci kami memajukan Indonesia.

“Hanya anak-anak bangsa sendirilah yang dapat diandalkan, tidak mungkin kita mengharapkan dari bangsa lain!” – B.J. Habibie –

II. ISI

            Menteri Pendidikan adalah jabatan yang dipercayai amanah penting untuk memperbaiki kualitas pendidikan ratusan juta anak-anak Indonesia. Bukan suatu hal mudah untuk memastikan terjaminnya pendidikan di negara Indonesia yang berupa negara kepulauan terbesar dengan 17.540 pulau. Sungguh suatu tanggung jawab besar tentunya bagi Menteri Pendidikan kita.

            Jika saya adalah Menteri Pendidikan, saya akan menanamkan karakter-karakter baik dengan adanya edukasi moral sejak TK, seperti bertutur kata baik,berperilaku santun, jujur, dan selalu mengingat 3 kata sakti, “permisi, maaf, terimakasih”.  Menyadarkan pula bahwa kita memerlukan attitude baik untuk sukses dunia akhirat. Bahwa proses belajar lebih penting dari perkara nilai. Di Indonesia, menyontek adalah hal yang sangat umum, bahkan guru pun turut membongkar jawaban soal. Maka perlu adanya perubahan besar-besaran untuk menegakkan kejujuran, dengan membuat sanksi berat untuk siswa dan orang-orang yang ikut membantu proses menyontek. Jika perlu soal dibuat secara essay dengan pertanyaan yang memancing jawaban-jawaban kritis secara individual untuk mencegah kemudahan menyontek dari tipe soal pilihan ganda.

            Saya akan mewujudkan hak-hak semua anak Indonesia untuk mendapatkan pendidikan dengan cara meratakan akses pendidikan di seluruh pelosok tanah air, terutama daerah 3T (Tertinggal, Terdepan,  Terluar). Bangunan sekolah harus nyaman dan aman dengan fasilitas yang lengkap seperti toilet bersih, perpustakaan, UKS, serta kantin sehat. Sekolah Luar Biasa untuk disabilitas diperbaiki dan diperbanyak jumlahnya untuk membantu siswa/i dengan disabilitas agar nyama dalam belajar. Biaya sekolah negeri perlu digratiskan, karena mirisnya beberapa tahun belakangan ini sekolah negeri terutama di Jawa Barat harus membayar ratusan ribu rupiah untuk menikmati pendidikan. Buku cetak sudah seharusnya disebarkan gratis ke seluruh penjuru Indonesia. Akses menuju sekolah, seperti jembatan dan jalan, harus dapat dipastikan aman dan kondusif untuk dilewati. Beasiswa seperti bidikmisi, beasiswa luar negeri, dan beasiswa lomba pun diperbanyak untuk membantu siswa/i yang memperbaiki kualitas pendidikan serta  berprestasi di kancah nasional maupun internasional.

            Andai saya menjadi Menteri Pendidikan, saya tidak akan memaksa siswa/i mempelajari bahkan menguasai semua pelajaran. Rata-rata jumlah mata pelajaran di Indonesia terlalu banyak, yaitu 10-17 mata pelajaran, yang beberapa diantaranya bahkan tidak efisien. Ada Seni Budaya, tapi ada pula mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan. Pelajaran Bahasa Inggris pun terbagi menjadi dua, ada Bahasa Inggris dan Bahasa Inggris Peminatan. Biologi sudah membahas tentang lingkungan, tapi  Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) juga harus dipelajari. Bagi saya, pelajaran diatas cukup membuang waktu yang harusnya diperdalam untuk pelajaran Sains dan Sosial Humaniora. Materi wajib seperti Biologi, Fisika, dan Kimia pun durasinya menjadi sedikit karena ketidakefisienan tersebut. Sebagai solusinya, saya akan membebaskan murid-murid memilih 8 pelajaran yang sesuai dengan minat, bakat, serta mampu mendukung cita-citanya. Misalnya, Tuti ingin menjadi pelukis, maka ia bisa mengikuti pelajaran Seni dengan waktu lebih banyak dan tidak wajib mengikuti pelajaran yg kurang sesuai dengan cita-citanya . Saya tahu sistem SKS sudah diberlakukan di beberapa sekolah di Indonesia, tapi hal tersebut kurang efektif sebab pelajaran masih terlampau banyak dan program kurang terencana. Menurut saya, sistem SKS ini patut diberlakukan di seluruh Indonesia, karena dapat menuntun siswa/i memperdalam mata pelajaran yang disukainya hingga mereka ahli, alih-alih memaksa mereka mempelajari 17 mata pelajaran namun tidak ada yang benar-benar dipahami.

            Andai saya seorang Menteri Pendidikan dan memberlakukan fullday school, maka saya tidak akan memberikan siswa/i Pekerjaan Rumah (PR). Rata-rata siswa/i di Indonesia mendapat 2 PR setiap harinya, yang berkisar puluhan soal. Seharusnya waktu belajar 07.00-15.30 sudah sangat cukup untuk mengupas materi pembelajaran dan mengerjakan soal-soal, sehingga PR sudah tidak diperlukan. Sepulang sekolah, siswa/i dapat leluasa bersosialisasi dengan keluarga, tetangga, dan teman-teman di lingkungannya. Selain itu, siswa/i bisa melakukan hobi positif, mengikuti ekstrakurikuler, serta mengistirahatkan diri secara jiwa dan raga. Hal-hal tersebut penting untuk melatih kemampuan intrapersonal, interpersonal, sekaligus menhindari stress akademik di kalangan pelajar.

            Andaikan saya seorang Menteri Pendidikan, sudah sepatutnya saya memerhatikan kualitas guru-guru di Indonesia. Langkah awal dimulai dengan menaikkan gaji guru, terutama beliau yang mengajar di pedalaman. Kemudian beasiswa diberikan  kepada guru-guru yang punya semangat dan berprestasi, untuk belajar di universitas ternama dan menjadi guru internship di sekolah di berbagai belahan dunia. Program “Beasiswa untuk Guru” ini diharapkan mampu membuka wawasan mengenai cara guru di negara maju mengajar secara efektif dengan pemanfaatan teknologi terkini. Setelah kesejahteraan guru dan jumlah peminat untuk menjadi guru meningkat, diperlukan sistem penyeleksian yang cukup ketat untuk memastikan bahwa tenaga pendidik Indonesia benar-benar kompeten dibidangnya.

            Sebagai sesama manusia tentunya Menteri Pendidikan juga tidak luput dari kesalahan, maka diperlukan adanya keterbukaan kritik serta pertimbangan saran dari siswa/i dan orangtua.

            Semoga kedepannya pendidikan di Indonesia mengalami kemajuan, semua anak bisa bersekolah, dan Indonesia bisa sukses dalam bonus demografi.

.

Sumber:

https://www.kompasiana.com/casmudi/57dd7f5c9497739f56024433/bonus-demografi-puncak-keemasan-pembangunan-bangsa?page=all

https://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia

https://regional.kompas.com/read/2018/10/08/05440801/bonus-demografi-indonesia-berakhir-di-2036-jumlah-lansia-bakal-naik

https://www.kompasiana.com/casmudi/57dd7f5c9497739f56024433/bonus-demografi-puncak-keemasan-pembangunan-bangsa?page=all

https://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *