Oleh: Ghufran Afif – SMA Alwildan Islamic School Tangerang

Tanah air Indonesia dengan beragam budaya masyarakatnya, memiliki rekam sejarah peradaban manusia yang gemilang. Pada masa Kerajaan Mataram Kuno telah berhasil membangun sebuah candi yang terkenal di Pulau Jawa yaitu Candi Borobudur. Era selanjutnya berdiri Kerajaan Banten yang berhasil menjadikan perairan selat sunda sebagai poros maritim dunia. Lalu apa yang akan dilakukan generasi emas Indonesia di era sekarang?

Sejatinya bangsa yang besar ini membutuhkan masyarakat yang cerdas dan berkarakter dalam sebuah naungan pendidikan.. Hal senada pernah diungkapkan Ki Hajar Dewantara yang mengatakan bahwa “Pengaruh pengajaran itu umumnya memerdekakan manusia atas hidupnya yang lahir, sedang merdekanya hidup batin itu terdapat dari pendidikan”. Suatu hal yang umum jika melihat kompleksitas permasalahan Sumber Daya Manusia Indonesia, yang sesungguhnya berakar dari pendidikan. Urgensi nilai dan ruh pendidikan yang semestinya dihadirkan pada sekolah, masih menjadi hambatan karena dasar pemikiran yang selalu berpandangan terhadap system kurikulum yang mengharuskan seluruh siswa mengenyam landasan yang sama. Padahal Indonesia adalah bangsa yang majemuk dalam segala aspek kehidupan. Selain itu pemerataan sarana dan prasana pendidikan menjadi faktor dominan yang mempengaruhi permasalahan masih rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia.

Corak kebudayaan dengan segala unsur penunjang pendidikan di setiap wilayah memiliki perbedaan yang signifikan. Hal itu, hendaknya menjadi tolak ukur untuk sebuah sistem pendidikan dapat menyesuaikan dengan kemampuan daerah dalam menyasar terlaksanya pendidikan. Sebagai bagian dari negara-negara di dunia, maka pembelajaran dan atau penanaman sikap untuk bisa saling memahami perbedaan karakter dan budaya (cross culture understanding) haruslah dimulai dari dunia pendidikan. Kesadaran ini akan menjadikan masyarakat Indonesia menjadi lebih terbuka dan bijaksana dalam menjalani kehidupan sebagai warga dunia. Dengan demikian tidak ada lagi cara pandang  masyarakat  yang masih primitif terhadap budaya luar dan tertutup dalam menerima pergaulan dunia. Pandangan ini menjadikan mereka lebih memilih untuk bekerja lebih dini, serta tidak membekali diri untuk kehidupan di masa mendatang yang perlu dipersiapkan lebih dini melalui sebuah naungan pendidikan.

Sebagai Jembatan antara masalah dan Solusi, pendidikan seharusnya tidak lepas dari kelompok masyarakat yang secara langsung memiliki peranan dalam pembentukan karakter dan budaya sebagai identitas bangsa. Seperti halnya pada masyarakat sunda, terdapat falsafah Tritangtu yang  memiliki arti tiga kekuasaan dalam tiga ketentuan yaitu Rama (Tuhan), Prabu (manusia), dan Resi (alam) (Heryana, 2010). Bagi masyarakat sunda adat istiadat tersebut merupakan identitas yang sepatutnya dijaga dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari terutama bagi generasi muda. Makna yang terkandung pada setiap corak kebudayaan daerah-daerah lain juga merupakan modal dasar pendidikan yaitu sebagai pembentukan karakter bangsa. Melihat generasi muda yang ada sekarang ini hampir sebagian besar enggan atau tidak memiliki keinginan untuk mencintai dan mengamalkan nilai-nilai kearifan lokal. Kendati demikian, sistem pendidikan sekarang ini masih belum menyasar pada setiap variasi perbedaan yang ada di setiap daerah di Indonesia.

Memasuki era bonus demografi yang dimana sebagian besar penduduk Indonesia akan berada pada usia produktif, merupakan sebuah peluang emas untuk para generasi muda untuk bisa menjadi agent perubahan di era digital ini. Tidak lepas dari itu peran pengampu kebijakan dalam hal ini Menteri Pendidikan sangatlah krusial berkaitan dengan rancangan pendidikan yang sesuai dengan keragaman budaya Indonesia. Jika seandainya saya sebagai seorang Menteri Pendidikan, Suatu hal yang mendasar yang dialkukan yaitu pendidikan harus dapat mencakup tentang penanaman nilai budaya dan karakter daerah, pengembangan potensi, serta penyelesaian masalah yang ada dilingkungan keseharian kita. Peranan Alam sebagai sumber belajarnya dan kearifan lokalnya (local wisdom)  sebagai sebuah landasan dalam menjalankannya. Lingkungan alam sangatlah penting dalam membentuk kepribadian budaya dan sebagai identitas bangsa yang majemuk. Seperti hal nya yang dilakukan oleh Yayasan Sokolah Rimba, yang melakukan kepeduliannya terhadap pendidikan di daerah-daerah pedalaman, dengan cara melakukan pengabdian dan mendidik anak-anak suku pedalaman untuk dapat mengenyam arti pentingnya sebuah pendidikan, tanpa menghilangkan nilai-nilai kearifan lokal yang ada. Kemudian dalam hal itu terbesit pertanyaan, mengapa Menteri pendidikan tidak merancang sistem pendidikan untuk menaungi mereka yang tinggal di daerah pedalaman Indonesia? Bukan kah mereka memiliki hak yang sama sebagai warga Negara untuk mengecap manisnya pendidikan?

Fleksibilitas pendidikan yang dijalankan dengan terpusat pada konsep kebhinekaan ini seyogyanya dapat dirasakan oleh masyarakat Indonesia seluruhnya. Generasi penerus bangsa harus dapat belajar tentang tujuan hidup yang mengedepankan HAM dan tidak terkendala fasilitas sekolah formal yang belum menjangkau setiap daerah. Disisi lain nilai kebudayaan yang ada, merupakan sebuah sistem pendidikan yang terarah dan mengedepankan moral dan identitasnya masing-masing. Masyarakat cenderung mematuhi hukum adat yang berlaku dan disanalah esensi pendidikan dimasukan untuk masyarakat bisa menikmati lautan pengetahuan yang luas. Merekapun memiliki peraturan adat yang mengikat terhadap tanggung jawab moral suku bangsa dalam pergaulannya sehari-hari. Serta kekayaan lingkungan alam (Eco-literasi), merupakan ruang belajar yang kompleks dengan setiap permasalahan dan menjadi tantangan bagi masyarakat untuk memecahkan masalahnya, sesuai dengan peraturan adat yang berlaku.

Metamorfosa wajah pendidikan Indonesia saat ini sudah seharusnya dapat dihiasi oleh ragam corak kebudayaan yang ada. Penerapan sistem pendidikan yang menitik beratkan pada identitas bangsa, dengan mengerahkan segenap potensi atau sumber daya yang tersedia, menjunjung tinggi nilai kearifan lokal adalah solusi terbaik untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Maka dalam hal ini masyarakat merupakan suri tauladan dalam pengembangan diri peserta didik, menjadi penyeimbang dalam pengembangan sumber daya manusia dan menjadi pendorong dalam menerapkan nilai-nilai pendidikan pada corak kebangsaan di Indonesia. Dengan demikian tujuan dari para pahlawan bangsa yang telah gugur dapat tercapai yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa (Cerdas dalam pergaulan dan cerdas dalam menjalani kehidupan), dan mewujudkan terciptanya manusia Indonesia seutuhnya (Utuh sebagai manusia yang diciptakan dalam kedamaian untuk hidup arif dan bijaksana dunia dan akhirat).

REFERENSI Heryana, Agus. 2010. TRITANGTU DI BUMI DI KAMPUNG NAGA: Melacak Artefak Sistem Pemerintahan (Sunda). Ejournal Patanjala, Vol 2, No 3 (2010)


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *