Oleh: Alodia Amanda – SMAN 8 Jakarta

Ekspor-impor semakin gencar dalam era ekonomi 4.0. Hubungan bilateral Indonesia dengan Negara X sedang dipertaruhkan. Pemilu adalah ajang pengujian kedewasaan Bangsa Indonesia dalam berdemokrasi, apakah berhasil? Perbatasan masih sering disusupi pihak asing yang tak jarang merugikan. Pemerataan pembangunan gencar di seluruh pelosok negeri. Permintaan dan penawaran pekerjaan tidak bertemu, angka pengangguran meningkat. Sampah plastik masih mengapung di tengah lautan. Ikan-ikan kita dicuri. Siapa yang akan menyelesaikan semua persoalan itu?

Menurut Undang-Undang No 20 Tahun 2003, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi di dalam diri untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Dari definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah sektor strategis dalam menentukan kemajuan suatu negara. Faktor paling utama dalam menentukan kemajuan suatu negara adalah kualitas sumber daya manusianya dan dalam membentuk sumber daya manusia yang berkualitas, dibutuhkan waktu yang lama, bukan hanya satu atau dua tahun. Kualitas sumber daya manusia yang baik akan terbentuk melalui budaya-budaya yang baik juga tentunya, disinilah pendidikan mengambil peran.

Melihat realita yang terjadi belakangan ini, kebijakan dalam pendidikan seringkali berubah, baik dari segi konsep (kurikulum) maupun teknis (birokrasi dalam praktik pendidikan). Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia belum mempunyai dasar yang kuat dalam menjalankan praktik pendidikan. Akibatnya, dari segi konsep besar dan pemangku kepentinganyang belum siap, tercermin juga dalam hal-hal teknis yang lumrah ditemui dalam kegiatan pembelajaran setiap harinya. Misalnya, kesepahaman dalam memberikan sanksi.

Andai saya menjadi menteri pendidikan, hal pertama yang akan saya lakukan adalah tentunya menyadari sepenuhnya bahwa saya adalah ujung tombak dalam menentukan arah masa depan bangsa ini dan segala tindak-tanduk yang akan saya lakukan adalah penting.

Saya dapat memiliki segala angan untuk merancang negeri ini, membuat gebrakan sendiri, namun mari tetap realistis bahwa saya tidak akan bisa bekerja sendiri. Saya membutuhkan rekan-rekan yang menyadari pentingnya kedudukan mereka dan mempunyai idealisme yang sama akan kemajuan negeri ini melalui bidang yang kami naungi; pendidikan. Penyatuan pandangan dan visi besar yang disetujui oleh semua birokrat pendidikan sangatlah penting agar semua langkah yang akan ditempuh kembali pada akar yang sama, yaitu visi besar bersama. Penyatuan banyak pikiran tentunya bukanlah hal yang mudah, apalagi praktiknya, sangat dibutuhkan integritas tinggi. Namun semua itu terangkum dalam satu hal, yaitu pengembangan sumber daya internal. Jika kondisi sumber daya manusia dari internal kementerian sudah memadai, maka tentunya tindakan yang akan diambil selanjutnya juga akan logis dan idealnya menjadi sebuah solusi.

Semua permasalahan bangsa ini bersumber dari kualitas sumber daya manusianya. Saya, dalam ranah pendidikan, kemungkinan besar tidak dapat mengubah kualitas generasi-generasi yang sudah melewati tahap pendidikan formal, namun kemungkinan besar dapat menanamkan nilai-nilai yang menjadi dasar dalam keseharian generasi-generasi muda yang masih mengenyam pendidikan. Kita harus membangun generasi yang berkualitas karena masa depan bangsa ini berada di tangan mereka dan semua bersumber dari kepribadian masing-masing. Tidak ada manusia sempurna, namun memiliki kesamaan nilai dasar dalam menjalankan sesuatu sesuai hakikatnya merupakan suatu kemajuan besar yang tampaknya masih realistis untuk diusahakan. Sehingga hasilnya adalah generasi cerdas yang mengkaji segala sesuatunya terlebih dahulu sebelum memprotes. Generasi yang mampu dan secara adil menerima perubahan demi kemajuan beserta konsekuensinya. Pemerintah telah menekankan bahwa dalam pembelajaran, yang utama adalah sikap, character building, namun tampaknya kurang tersosialisasikan dengan baik terhadap tenaga pengajar sehingga dalam praktiknya tidak maksimal serta tidak berpengaruh apa-apa.

Tidak mengambil tindakan dalam sekejap, harus ada dasar yang logis dan jelas dari setiap tindakan. Analisa lapangan adalah jawabannya, atau dalam konteks ini, analisa terhadap realita yang ada pada guru dan murid dalam menjalani proses pembelajaran setiap harinya. Bukan hanya analisa sekelibat melalui kulitnya, melainkan analisa serius secara mendalam ke sekolah-sekolah. Mungkin hal ini sudah diterapkan, namun menurut saya kurang optimal. Guru sudah mengetahui pengawas yang akan datang dalam rangka penilaian jalannya proses pembelajaran, akibatnya nilai baik hasil kepura-puraan yang muncul sehingga analisa menjadi tidak nyata dan pemerintah mengambil kebijakan atas ketidaknyataan itu. Rekan-rekan yang sudah sevisi tadi dapat berkontribusi nyata dalam analisa ini dan kegiatan penilaian serta pengawasan dapat diubah metodenya. Bagaimanapun caranya, analisa mendalam harus mendapatkan kondisi yang paling nyata terkait keluhan dan kesulitan guru maupun murid. Senyata hal-hal berikut, guru dengan metode seperti apa yang paling efektif dan disukai oleh para murid, apakah metode pembelajaran masih relevan dengan generasi sekarang yang notabene didominasi oleh Generasi Z yang aktif bersosial media, dan hal-hal konkret lainnya.

Sebagai tindak lanjut dari analisa tersebut, hasil analisa akan ditampung dan dikaji ulang serta diakumulasi oleh internal kementerian. Kemudian hasilnya akan disosialisasikan dan didiskusikan dalam forum besar yang mengikutsertakan baik pihak guru maupun murid. Bersumber dari hasil diskusi tersebut, haruslah terbentuk sebuah visi global untuk menentukan arah pendidikan yang lebih baik, yang tentunya bersumber dari semua pihak. Karena sudah dibekali dengan penanaman nilai-nilai esensial yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia, maka diharapkan semua pihak berkomitmen untuk menjalankan tindakan-tindakan yang menjadi konsekuensi dari visi global tersebut.

Masih mengenyam bangku pendidikan, maka dapat diyakini belum merasakan pahit-manisnya hidup. Guru, yang lebih tua dan tentunya lebih mengerti secara keseluruhan, haruslah mendapat perhatian lebih dalam membimbing. Bukan mempertanyakan kompetensi, namun lebih ke arah menekankan pada profesionalitas dalam menjalankan tugasnya. Secara materi, kemungkinan sudah tidak perlu dipertanyakan, namun secara metode dan tindak-tanduk sebagai seorang pengajar perlu lebih ditekankan agar memiliki nilai dasar yang sama sebagai seorang pengajar. Selain dalam membimbing, guru juga harus diperhatikan dalam kesejahteraannya. Karena peran yang diberikan krusial bagi perkembangan murid yang adalah penerus bangsa, maka kompensasi yang diberikan haruslah setimpal.

Terakhir, keterikatan emosional antara guru dan murid. Hal ini merupakan yang paling kecil di antara semuanya namun tanpa disadari berdampak besar. Saling pengertian antara keduanya dalam segala aspek dan dalam batas wajar akan menimbulkan sikap segan dan saling menghormati. Kementerian dapat memberikan stimulus yang dapat merangsang  hal ini.

Jadi, yang akan menyelesaikan semua permasalahan bangsa ini adalah kita, generasi muda dengan tongkat penerus. Bekali diri dengan satu tujuan, Indonesia yang lebih baik, maka segala usaha akan dilakukan demi Indonesia tercinta. Mendidiklah sebagai seorang pendidik, belajarlah sebagai seorang pelajar, sesuai hakikatnya masing-masing.

Categories: Esai 2019

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *