Oleh: Annisa Ramadhani – SMAN 2 Lumajang

“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.” – Tan Malaka.

            Tujuan pendidikan adalah membentuk generasi yang siap menghadapi dinamika tantangan zaman dan memiliki kecakapan dalam memecahkan problematika sosial di kehidupan sehari-hari. Kaum pemudalah yang diharapkan oleh negeri ini untuk mewujudkan tujuan itu sehingga tercetak kaum intelektual yang akan mengubah Indonesia lebih maju dan bermartabat.

            Dewasa ini, ada banyak orang pintar tapi bobrok moralnya. Kita temui orang paham agama tetapi korupsi, orang paham politik tetapi memperkeruh keadaan politik, orang paham hukum tetapi memihak orang berduit, orang paham teknologi tetapi digunakan cybercrime, dan orang berpendidikan tinggi lainnya tetapi perkataannya tak beradab. Indonesia masih perlu banyak orang berprofesi ahli yang berkarakter, berinovasi sesuai bidangnya, dan berdedikasi untuk negara atau masyarakat.

            Permasalahan yang terjadi dapat diusut dan dikembalikan pada pendidikan. Sebuah tugas dari Menteri Pendidikan untuk menciptakan suasana belajar yang tepat sehingga output yang dihasilkan menjadi luar biasa. Membentuk generasi yang cerdas diimbangi dengan karakter dan tidak kalah pentingnya berdaya saing di dunia. Terlebih pemerintah telah menganggarkan sekitar 20% APBN untuk pendidikan, maka dari itu perlu sekali kebijakan dan langkah yang tepat sasaran agar dana negara termanfaatkan dan tidak sia-sia.

            Setelah mengulik lebih banyak mengenai pandangan pendidikan di berbagai negara serta pengalaman yang saya rasakan sebagai pelajar, saya mengelompokkan permasalahan kompleks pendidikan menjadi 3 aspek, yaitu tenaga pendidik, keberlangsungan belajar, dan fasilitas pendukung.

            Pertama, tenaga pendidik meliputi guru, orangtua, dan masyarakat. Profesi guru di Indonesia mulai dianggap biasa dan kurang diminati karena banyaknya guru yang mendapatkan gaji pas-pasan, terutama guru non PNS yang gajinya sangat minim. Di negara lain, profesi guru sangat disohor karena dianggap peran terpenting dalam pembangunan negara. Jika saya menjadi menteri pendidikan, salah satu upaya yang saya lakukan adalah menaikkan gaji guru namun disertai dengan kualifikasi yang semakin tinggi. Dengan hal itu, akan banyak lagi peminat dan persaingan menjadi lebih ketat, sehingga mereka bersaing mengembangkan diri menjadi guru yang berkualitas untuk memenuhi kualifikasi. Penyebaran guru di daerah 3T telah dilaksanakan oleh Menteri Pendidikan. Sedangkan, peran orangtua dan masyarakat ialah membantu menempatkan anak pada lingkungan yang tepat.

            Kedua, aspek keberlangsungan belajar. Pengurangan jam sekolah akan lebih baik karena banyak siswa merasa sekolah adalah tempat yang membosankan dan melelahkan dengan waktu sekitar 7-8 jam disertai mata pelajaran yang banyak. PR yang diberikan juga seringkali membuat siswa lembur, misalkan laporan percobaan yang belum tentu mereka akan ingat ketika sudah lulus. Berbeda dengan siswa di Jepang yang mengatakan jika mereka mengerjakan PR tidak lebih dari 20 menit.

            Pengarahan soal menuju tipe HOTS yang akhir-akhir ini gencar dilakukan adalah hal yang tepat. Bagaimanapun tingkatan soal tidak boleh stagnan jika ingin berkembang dan lebih baik ditanamkan sejak jenjang dasar bukan secara tiba-tiba muncul ketika ujian akhir.

            Selain cerdas secara akademis, karakter moral siswa sangat penting untuk menghindari penyalahgunaan ilmu mereka seperti contoh kasus di atas. Pendidikan karakter harus gencar ditanamkan ketika usia dini jenjang TK/SD karena pada masa itu kebiasaan anak dapat dibentuk. Setelah terbentuk, mereka akan terbiasa pada jenjang berikutnya. Hal yang dapat dilakukan adalah memberi mindset jika karakter adalah sebuah harga diri. Dimana mereka akan malu jika berbuat menyimpang, misalkan tidak jujur, tidak sopan, tidak tepat waktu, dll.

            Seperti yang pernah saya ketahui, di Jerman terdapat pembelajaran hal khusus di sekolah seperti menjahit, mengontruksi barang, atau kesenian. Hal yang dianggap tidak penting ini ternyata memberi pengalaman lebih bagi siswanya. Indonesia dapat menerapkan hal ini dengan memanfaatkan kekayaan budaya yang lebih melimpah. Ide saya adalah sekolah memberlakukan program Ekspansi Budaya, misalkan batik, wayang, ataupun kerajinan daerah. Diharapkan tidak ada lagi keanekaragaman yang diklaim oleh pihak luar. Bahasa daerah pun perlu digencarkan seiring mempelajari bahasa Inggris, sehingga kedaerahan nusantara dan internasionalisasi berjalan selaras untuk globalisasi.

             Ketiga, aspek fasilitas pendukung meliputi bantuan siswa kemampuan ekonomi rendah, Beasiswa Siswa Berprestasi, olimpiade, keterbukaan opini pelajar, dan membuka kesempatan Student Exchange agar lebih terbuka dengan perkembangan pendidikan di luar sana. Saya dan banyak teman lain yang bertahun-tahun berkecimpung di olimpiade merasa bahwa olimpiade adalah wadah yang berintegritas dan menjunjung tinggi kejujuran. Sehingga secara tidak langsung membentuk kejujuran, sportivitas, dan mental juara yang jarang sekali terbentuk ketika pembelajaran di kelas. Tentunya, dana untuk kompetisi akademik maupun nonakademik sudah sepatutnya disediakan untuk mendukung antusiasme siswa.

            Sayangnya, tolok ukur keberhasilan pendidikan kini diukur dengan banyaknya siswa yang mampu mengungguli nilai batas minimum. Metode evaluasi seperti ini tidak membentuk siswa berjiwa pembelajar. Siswa hanya fokus menjawab soal dengan cepat, tepat, dan mendapatkan nilai bagus. Hal yang dikejar dan diagungkan pihak sekolah adalah akreditasi atau kenaikan nilai. Padahal, kesuksesan tidak berpacu pada angka.

            Untuk apa siswa diminta menghafal detail tanggal dan kejadian sebuah hari Kemerdekaan, jika pada akhirnya mereka tetap tidak memaknai dan memiliki kesadaran hati atas kemerdekaan. Untuk apa siswa menghafal rumus jika mereka tetap tidak paham formula mengapa dan untuk apa rumus itu digunakan. Inilah potret pendidikan saat ini. Lebih baik siswa diarahkan untuk lebih open minded yaitu mencipta dari apa yang telah mereka pelajari.

            Jadilah sekolah tempat dimana inovasi ide, literasi, dan argumentasi dibudayakan. Tempat mereka berkarya, berdiskusi, berefleksi dan menjadikan pendidikan sebagai sendi-sendi kehidupan. Tempat siswa ditempa menjadi orang terpelajar dalam makna sebenarnya. Semua profesi itu bermakna, ada yang ingin menjadi musisi yang memotivasi kehidupan orang lain, desainer handal yang karyanya diapresiasi, arsitek yang merancang bangunan ramah lingkungan, petugas kebersihan yang menjaga kota tetap bersih, dan semuanya adalah pilihan agar berguna di masyarakat. Pada akhirnya, mereka bebas menentukan akan jadi orang seperti apa di masa depan.

Categories: Esai 2019

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *