Oleh: Apriana Sukainah – SMAN 3 Batam

“Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan” ― Tan Malaka

Keberhasilan dalam  menempuh pendidikan sering kali dikaitkan dengan hasil akhir yang diperoleh seseorang. Perlihatkan saja parade nilai sembilan puluh atau jajaran huruf A pada orang-orang di sekitar Anda, mereka pasti akan dengan senang hati menganugerahi label ‘pintar’. Memang hal itu benar, namun rasanya akan menjadi semakin benar jika label tersebut diklasifikasi ke dalam dua subunit yang lebih spesifik; kepintaran alami dan kepintaran memanipulasi atau yang lebih dikenal sebagai perbuatan menyontek.

Menyontek merupakan salah satu bentuk degradasi moral terkait kejujuran yang sampai sekarang masih sulit dipisahkan dari dunia pendidikan Indonesia. Mayoritas masyarakat, terkhusus pelajar, umumnya akan mengecam dan mengaku kontra ketika dimintai tanggapan mengenai perbuatan tersebut. Namun, itu bukan berarti mereka tidak melakukannya, ‘kan? Sebab bukan rahasia lagi bahwa nilai yang memuaskan sudah cukup mengundang decak kagum tanpa ditanya bagaimana prosesnya. Ya, pandangan orang lain memang berpengaruh besar, meski tidak pada semua orang. Tenang saja, masih banyak orang yang lebih mementingkan proses, toh yang paling krusial adalah pemahaman. Setiap orang butuh waktu dan cara yang berbeda untuk mengerti suatu hal, itulah mengapa tidak semua akan berhasil pada percobaan pertama. Mengulang bukan berarti gagal. Gagal adalah ketika Anda memutuskan untuk berhenti mencoba.

Perbuatan lain yang seolah menunjukkan betapa bobrok mental pelajar Indonesia saat ini adalah maraknya kasus penganiayaan terhadap guru oleh siswanya sendiri. Keikhlasan dalam mengajar, kesabaran menghadapi tingkah anak didik, serta segala upaya yang telah dikerahkan demi mencerdaskan generasi penerus seperti kurang cukup untuk membuat mereka dihargai. Lalu saat kasus telah mencuat dan berhasil menyita perhatian publik hingga si pelaku dihujam kritik pedas masyarakat, barulah berbagai macam alibi dilontarkan. Alasan klasiknya apalagi kalau bukan tidak terima ditegur. Setelah itu, yang bersangkutan ditemani orang tuanya akan datang meminta maaf secara langsung, memohon agar tidak dibawa ke ranah hukum dengan dalih masih di bawah umur.

Tak hanya dari kalangan siswa, orang tua pun memiliki problematikanya sendiri terhadap sistem pendidikan di Indonesia yang dinilai terlalu keras dan memaksa. Melihat wajah putra-putri mereka yang kelelahan sepulang sekolah ditambah lagi masih harus mengerjakan tugas rumah, membuat banyak dari mereka menyuarakan keberatan hingga diterapkanlah sistem fullday dimana jam belajar siswa di sekolah bertambah namun harinya dikurangi, yang awalnya dari Senin sampai Sabtu menjadi Senin sampai Jum’at plus tanpa tugas tambahan di rumah. Namun, tetap saja tidak semudah itu memberlakukannya di seluruh sekolah di Indonesia.

Andai saya menjadi menteri pendidikan, saya akan semakin menggencarkan program revolusi mental yang saat ini tengah dilakukan pemerintah, mengingat bahwa mental generasi penerus merupakan pondasi utama yang menjadi penentu akan bagaimana bangsa ini ke depannya. Semakin gemilang dan bersinar kah atau justru semakin merosot citranya di mata dunia. Caranya yaitu dengan mewajibkan sekolah menyediakan waktu tiga puluh menit setiap minggunya agar guru bimbingan konseling bisa datang memberi pemahaman mengenai etika ke kelas-kelas, mewajibkan budaya literasi, pembacaan kitab suci, dan berdoa, serta jika memungkinkan memberi penghargaan bagi sekolah yang bersih dari tindak kekerasan. Dari setiap provinsi akan dipilih tiga sekolah terbaik sebagai bentuk apresiasi karena selama proses pembelajaran antarwarga sekolah mampu bersikap kooperatif dan menjaga kerukunan.

Di samping itu, jumlah anak putus sekolah, anak di bawah umur yang bekerja, dan anak yang sama sekali belum mengenyam pendidikan pun masih terbilang banyak. Beberapa di antaranya tak jarang kita temui di lampu merah dan persimpangan, entah sebagai peminta-minta, penjual makanan ringan, maupun pengamen. Tindakan meminimalisir yang bisa dilakukan adalah mengadakan sosialisasi mengenai pentingnya pendidikan pada masyarakat awam dengan terlebih dahulu mensurvei daerah mana yang mayoritas masyarakatnya memiliki permasalahan di atas.

Saya juga akan memfokuskan pengembangan pendidikan di daerah terpencil terlebih dahulu dengan memperbaiki sekolah yang rusak, menambah fasilitas seperti meja, kursi, dan bahan bacaan, serta menyediakan tenaga pendidik yang memadai agar siswa merasa nyaman dan berminat pergi ke sekolah. Pengucuran dana bos pun harus dilakukan setransparan mungkin berdasarkan kebutuhan untuk menghindari kemungkinan terjadinya penyelewengan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab serta supaya pendanaan tersebut dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya.

Menambah jumlah beasiswa baik dalam maupun luar negeri dengan mempertimbangkan anggaran pendapatan dan belanja negara juga perlu dilakukan agar semakin banyak anak Indonesia yang dapat mewujudkan mimpinya untuk bersekolah sampai ke tahap yang lebih tinggi tanpa harus mengkhawatirkan biaya. Namun, jangan lupa untuk selalu menghargai segala inovasi dan kreasi yang telah diciptakan oleh anak-anak Indonesia dalam berbagai bidang, terlebih jika sudah berhasil memperoleh kemenangan di kancah internasional. Sebab ada banyak kasus terkait penemuan hebat yang sejatinya dilakukan putra-putri bangsa namun pada akhirnya justru diakui dan dipatenkan sebagai kepunyaan negara lain karena kurangnya apresiasi pemerintah. Banyak juga lulusan luar negeri yang menolak kembali untuk bekerja di Indonesia karena sulit memperoleh pekerjaan dengan posisi dan gaji yang sesuai, sedangkan ketika di negara lain mereka menerima banyak tawaran pekerjaan.

Saya tentu juga akan melakukan revisi terhadap kurikulum dan sistem pembelajaran yang saat ini diterapkan, menganalisis keuntungan dan kelemahan dalam penggunaannya, serta menilai sudah seberapa efektif dan efisien hal tersebut untuk membuat pendidikan di Indonesia mampu bersaing dengan negara maju dan masuk setidaknya ke dalam peringkat dua puluh besar dunia. Selain mengadakan rapat dengan anggota untuk terus menemukan solusi terbaik, saya pun mempersilakan anak-anak bangsa yang ingin menyampaikan pendapatnya melalui sebuah forum yang akan diadakan setiap enam bulan sekali. Mereka yang boleh bergabung dalam forum ini harus diseleksi terlebih dahulu dan untuk setiap provinsi diwakili oleh dua pelajar terpilihnya. Saya akan meninjau apa saja yang telah dilakukan menteri pendidikan sebelumnya, meneruskan program yang saya rasa sudah sesuai, dan mencari cara agar Indonesia terus mampu mengikuti pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sebagai salah satu anak bangsa saya sangat ingin melihat pendidikan Indonesia terus dan terus berkembang menjadi lebih baik. Saya berharap Indonesia semakin dikenal dan disegani karena prestasinya serta mampu menjadi bangsa yang berwibawa dengan tetap berpegang pada Pancasila. Indonesia bisa, Indonesia hebat! Saya bangga menjadi bagian dari Indonesia.

Categories: Esai 2019

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *