Oleh: Tessana Pridia Paramitha – SMAN 1 Bojonegoro

Letak geografis yang strategis dengan luas sekitar 1.919.440 km² menunjukkan betapa kayanya Indonesia akan sumber daya alam. Sumber daya alam tersebut mulai dari sektor pertanian, kehutanan, kelautan dan perikanan, peternakan, perkebunan serta pertambangan dan energi. Potensi ini juga didukung sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang tinggi kuantitasnya. Hal tersebut seharusnya dapat membuat negara Indonesia menjadi negara yang super power. Ironisnya, di balik melimpahnya kekayaan itu ada kejanggalan yang menyayat hati. Kekayaan tersebut justru berbanding terbalik dengan keadaan rakyatnya, yaitu masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan. Kesejahteraan rasanya masih jauh dari harapan. Apa yang salah dengan negara ini?

Indonesia memang memiliki kekayaan SDA melimpah, namun potensi terbesarnya bukan kekayaan SDA, bukan pula letak geografis yang selama berpuluh tahun dibangga-banggakan dan membuai bangsa ini terlena dalam mimpi indah nyaris tak berujung. Dua potensi itu hanya faktor pendukung. Potensi utamanya berasal dari sumber daya manusia (SDM) berkualitas. SDM berkualitas akan memiliki daya ungkit bertenaga super besar, terutama anak muda yang berkualitas dan mampu mengelola SDA bangsa sendiri.

SDM Indonesia memang melimpah, sayangnya kemampuannya rendah dalam mengolah alamnya dengan baik. Hasil pertanian masyarakat sangat sedikit bahkan untuk memenuhi kebutuhan mereka tidak cukup. Padahal Indonesia memiliki hamparan sawah yang membentang luas. Hasil ikan para nelayan pun tidak sebanding dengan luasnya laut yang dimiliki Indonesia. Hal ini disebabkan masyarakat tidak mempunyai pengetahuan dan kemampuan dalam mengolah kekayaan alam dengan baik, efektif maupun efisien.

Salah satu hal yang perlu diperhatikan untuk membangun generasi muda berkualitas adalah dengan memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia. Sangat diperlukan kerangka sistem penyelenggaraan pendidikan meliputi kejelasan arah kebijakan yang ditetapkan, dengan tujuan untuk membangun SDM yang bervisi dan misi sesuai potensi kekayaan negara Indonesia.

Diperlukan adanya pendidikan berbasis potensi lokal yang bervisi misi membangun SDM sesuai potensi kekayaan daerah lokal. Pendidikan ini berisi materi pelajaran khusus dalam mendalami pengembangan potensi lokal yang dapat menunjang anak  – anak Indonesia untuk menjadi calon – calon generasi yang cerdas sehingga dapat mengolah kekayaan sumber daya alam. Dalam hal ini, anak – anak tidak harus mempelajari semua mata pelajaran seperti dalam pendidikan formal. Namun, mereka hanya perlu mendalami pengetahuan – pengetahuan yang berkaitan erat dengan pemanfaatan potensi lokal.

Misalnya edu fisher life, yang berfokus pada materi pelajaran yang dapat menunjang anak – anak pesisir untuk menjadi calon – calon nelayan yang cerdas dan berdaya saing. Materi yang diberikan antara lain berhitung, manajemen uang, pengolahan ikan lebih lanjut, dan cara menggunakan teknologi yang berkaitan dengan perikanan dengan harapan kelak mereka dapat menjadi nelayan cerdas yang dapat memanfaatkan kekayaan laut Indonesia secara optimal dan bijak.

Selain itu, perlu ditambahkan beberapa keterampilan khusus, seperti bahasa asing, memasak, budidaya ikan, budidaya terumbu karang, hiasan kulit kerang, dengan harapan para anak nelayan dapat memacu kreativitas di bidang kelautan lainnya, selain sebagai nelayan. Model yang diadopsi untuk Edu fisher life ini adalah model pendidikan non-formal berbasis kebutuhan dan berbasis masyarakat nelayan.

Selain edu fisher life, pendidikan potensi lokal lainnya yang dapat diterapkan adalah edu farmer life, dimana pendidikan ini ditujukan pada anak – anak untuk mendalami keahlian dalam bertani. Materi yang diberikan berfokus pada teknologi pertanian,  penyiraman, serta pemupukan. Diharapkan, proses bercocok tanam bisa lebih presisi dan efektif, serta meminimalisir adanya gagal panen.

Melalui pendidikan berbasis potensi lokal, para anak bangsa akan mempunyai wawasan yang luas mengenai potensi lokalnya. Para anak di daerah pertanian akan mempunyai wawasan yang luas di bidang pertanian. Sedangkan para anak pesisir akan mempunyai wawasan luas di bidang kelautan. Hal ini memungkinkan mereka mengambil langkah yang lebih rasional dalam bertindak sehingga apa yang menjadi tujuan hidupnya akan lebih terarah dan tercapai. Pengetahuan yang lebih baik juga dapat membantu para calon nelayan dan petani Indonesia untuk meciptakan pembaharuan – pembaharuan dalam bidang pertanian maupun kelautan sehingga dapat membawa Indonesia menjadi lumbung padi serta sentra maritim di kalangan dunia.

Daftar Pustaka

Siti, Nina. 2016. Kesadaran masyarakat nelayan terhadap Pendidikan anak.

Pratiwi, Utami. 2018. Indonesia 2045. Yogyakarta : Bentang


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *