Oleh: Miftahul Jannah – SMA N 1 Yogyakarta

Revolusi industri 4.0 merupakan fase keempat dari perjalanan sejarah revolusi industri yang dimulai pada abad ke -18.  Menurut Prof Schwab (2017) dalam Rosyadi (2018), revolusi industri ditandai dengan kemajuan teknologi baru khususnya robot kecerdasan buatan (artificial intelligence robotic), teknologi nano, bioteknologi, teknologi komputer kuantum, blockchain, teknologi berbasis internet, dan printer 3D.

Era revolusi industri 4.0 jelas memiliki dampak dengan cakupan lebih luas dibidang industri. Otomatisasi adalah hal yang paling ditawarkan oleh teknologi pada era ini. Contohnya, sektor produksi pertanian Jepang sudah terintegrasi dengan teknologi guna menumbuhkan produk bebas pestisida dengan bantuan cahaya buatan berupa LED merah dan biru. Sistem otomatisasi tidak hanya dapat meningkatkan efisiensi dengan menekan waktu produksi tetapi juga dapat meningkatkan hasil produksi menggunakan berbagai produk atau cara.

Bagaimana mendukung era revolusi industri 4.0? Saat ini diketahui beberapa teknologi terbaru sudah mampu memasuki Indonesia. Namun, tidak semua teknologi-teknologi baru didukung pengembangan dan penggunaannya di Indonesia. Biaya menjadi salah satu momok pada tiap sektor sehingga menunda pembaharuan dengan teknologi terbaru. Selain itu, terdapat permasalahan lain berupa kualitas sumber daya manusia. Apakah sumber daya manusia sudah mendukung pengembangan teknologi pada tiap sektor di Indonesia? Inilah pentingnya peningkatan sumber daya manusia sejak dini untuk mendukung pembaharuan teknologi pada revolusi industri 4.0. Peningkatan sumber daya manusia pada bidang teknologi sejak dini dapat diarahkan kepada budaya riset. Budaya riset akan membentuk dasar pola pikir ilmiah untuk berpikir logis, kritis, sistematis, keilmuan, dan kreatif. Riset merupakan tonggak dalam pengembangan teknologi. Tanpa adanya riset, tanpa adanya inovasi, Indonesia tidak akan berkembang dan mampu bersaing dengan negara modern lainnya.

Menurut data United Nation for Development Program (UNDP), indeks pencapaian
teknologi Indonesia pada tahun 2013 berada pada urutan ke-60 dari 72 negara
berdasarkan perolehan hak paten dan royalti atas karya dan penemuan teknologi, difusi inovasi teknologi mutakhir yang diukur dari jumlah pengguna internet, dan besaran sumbangan ekspor teknologi terhadap total barang ekspor (Kemenristekdikti, 2017). Data ini menunjukkan bahwa pengembangan teknologi di Indonesia masih sangat kurang. Hal ini disebabkan salah satunya karena pemerintah belum maksimal dalam membimbing riset di Indonesia, baik pendanaan riset atau dalam bentuk program-progam peningkatan kualitas SDM serta sedikitnya jumlah peneliti di Indonesia. Jumlah peneliti di Indonesia adalah 1071 orang per sejuta penduduk (Kemenristekdikti, 2017). Sedikitnya jumlah peneliti di Indonesia terjadi salah satunya karena stigma masyarakat terhadap peneliti. Profesi peneliti dianggap tidak berprospek, membosankan, atau tidak menghasilkan gaji yang besar dibandingkan profesi moderat lainnya. Oleh karena itu, alangkah baiknya apabila budaya meneliti diberikan sejak dini pada masyarakat, terutama pada remaja.

Sebagai bentuk strategi pemerintahan untuk meningkatkan kualitas riset di Indonesia, dibuatlah rencana induk sektoral yang lebih terstruktur dan berkekuatan hukum lebih tinggi dalam bentuk Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) yang dibuat oleh Kemenristekdikti. RIRN disusun untuk menciptakan sinergi perencanaan di sektor riset yang selaras dengan perencanaan pembangunan nasional dengan jangkauan waktu 2017-2045. Visi yang tertuang dalam RIRN tahun 2017-2045 yaitu untuk mewujudkan “Indonesia 2045 Berdaya Saing dan Berdaulat Berbasis Riset”. Sementara tujuan yang tertuang dalam RIRN tahun 2017-2045 yaitu untuk meningkatkan literasi iptek masyarakat, meningkatkan kapasitas dan kompetensi riset Indonesia di ranah global, dan meningkatkan ekonomi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

Untuk mendukung visi RIRN, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan membuat platform lomba Penelitian seperti; OPSI, FIKSI, LKIR, dan NYIA diperuntukan bagi siswa Sekolah Menengah Atas sebagai upaya menumbuhkembangkan budaya meneliti. Sayangnya, kemendikbud tidak mengawasi dan memberikan gambaran jelas tujuan meneliti tersebut. Oleh karena itu, penulis sebagai peneliti di Jogja akan memberikan gagasan berdasarkan pengalaman diperoleh dari Jogja untuk menunjang RIRN sebagai inspirasi perbaikan mekanisme kedepannya.  Hal ini terbukti efektif, Provinsi D.I.Yogyakarta  7 kali mendapatkan peringkat pertama berbagai ajang lomba penelitian seperti Olimpiade Penelitian Siswa Nasional (OPSI), Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR), bahkan pada tahun 2017, Yogyakarta berhasil mengirimkan 4 kandidat peneliti dalam ajang INTEL International Science and Engineering Fair (wawancara pribadi, 2019).  

Pertama, riset menjadi kurikulum wajib di SMA. Siswa diwajibkan membuat proyek penelitian dan menuliskan hasil penelitian dalam bentuk laporan ilmiah. Tema bidang yang diusung antaralain; ilmu hayati, sains dasar, dan fisika terapan rekayasa. Sekolah juga menyelenggarakan Science Day sebagai final round untuk memamerkan berbagai hasil penelitian siswa tersebut. Tidak hanya sebagai kewajiban, sekolah juga dapat mengarahkan penelitian-penelitian siswanya untuk disertakan pada kompetisi penelitian. Dengan demikian, selain untuk meningkatkan prestasi atas nama almamater, siswa diharapkan berlatih untuk berani berkompetisi dengan percaya diri dan kerja keras.

Namun, seperti halnya siswa SMA pada umumnya, sangatlah jarang penelitian siswa-siswa SMA memiliki teknik menganalisis yang apik dan dalam, mampu membahas data dengan baik, menjelaskan serta menganalisis data dengan benar sehingga didapatkan penelitian yang akurat berlandaskan ilmu pengetahuan yang ada. Tidak hanya itu, beberapa siswa SMA juga memiliki kekurangan dalam mengeksekusi idenya seperti menggunakan metode penelitian yang kurang valid, dasar teori dan sitasi yang tidak benar atau bahkan kode etik yang tidak sengaja dilanggar oleh peneliti SMA.

Berdasar permasalahan di atas, gagasan kedua yang ditawarkan penulis ialah pembentukan komunitas peneliti di setiap provinsi. Komunitas ini merupakan organisasi terstruktur dibawah PEMDA provinsi untuk menyediakan fasilitas penelitian. Anggota komunitas ini merupakan sukarelawan pegiat riset baik dosen maupun mahasiswa yang nantinya menjadi mentor penelitian berbagai bidang bagi siswa. Komuitas ini memberikan bimbingan penelitian, pengajaran penelitian di beberapa sekolah, menjadi panitia dalam pendanaan penelitian siswa SMA. Bimbingan penelitian dapat berupa kesempatan bagi siswa untuk berkonsultasi, mencari data penelitian, mengerjakan penelitian, dan wawancara. Mentor penelitian juga memberikan arahan terkait teknik penulisan proposal, pengembangan metode riset dan teknik menganalisis data sehingga relevan dengan disiplin ilmu yang ada. 

Beberapa kekurangan dalam teknik kepenulisan, metode penelitian, dan pengkajian data dapat diselesaikan dengan meningkatkan intensitas konsultasi pada guru pembimbing. Namun demikian, tidak semua guru mempunyai basis pengetahuan riset mendalam sehingga materi yang disampaikan kurang terarah. Kendati demikian, dapat diperbaiki dengan pemerataan kualitas tenaga pendidik sebagai gagasan ketiga yang ditawarkan penulis. Pemerataan ini dapat dilakukan seperti pengadaan diklat guru riset untuk sekolah-sekolah terpencil atau pengadaan bantuan berupa pengajar riset khusus menyamakan kualitas sebuah daerah dengan daerah lain. Selain itu, dinas maupun pemerintah dapat membuat program pembinaan dengan bekerjasama antara universitas-universitas ternama serta sekolah-sekolah sehingga ide-ide siswa SMA yang luar biasa dapat tereksekusi dengan lebih matang dan baik. Bahkan hasil penelitian bisa disertakan pada kompetisi internasional atau dipublikasi secara internasional.

Secara keseluruhan, terdapat beberapa permasalahan serta kekurangan yang bisa
diperbaiki terutama pada pihak sekolah, siswa, maupun pemerintah. Kekurangan-kekurangan tersebut harus selalu dievaluasi sehingga kualitas riset meningkat, sesuai tujuan RIRN, dan mendukung revolusi industri 4.0.


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *