Oleh: Salsabila Anandadewi Wilujeng – SMKN 3 Denpasar

Saya adalah siswa kelas x di sekolah menengah kejuruan di bidang pariwisata. Alasan saya memilih sekolah kejuruan karena saya menyukai sistem belajar yang sering melakukan praktek daripada teori. Khususnya di bidang pariwisata, karena disini saya bisa mengembangkan berbahasa asing. Di sekolah pariwisata ini juga saya diajarkan bagaimana cara melayani tamu yang sedang berlibur dengan baik. Alasan lain mengapa saya memilih sekolah kejuruan, karena sekolah kejuruan lebih menjamin untuk kedepannya. Karena setelah kita lulus dari sekolah kejuruan kita telah memiliki skill yang siap bekerja di industri, dibandingkan dengan sekolah umum lainnya.

Selain itu kelebihan sekolah kejuruan berdasarkan informasi yang saya baca, setelah lulus dari sekolah kejuruan kita bisa melanjutkan sekolah ke pendidikan yang lebih tinggi dengan biaya sendiri, karena setelah kita lulus sudah bisa langsung bekerja. Di sekolah kejuruan lebih banyak memiliki pengalaman. Karena bisa langsung menerapkan teori yang sudah didapatkan di kelas. Kita juga bisa membuka usaha, karena sudah memiliki kemampuan dan keterampilan. Dan kita juga diajarkan bagaimaa caranya memulai usaha. Harapan saya ketika lulus dari sekolah kejuruan saya bisa bekerja di hotel berbintang. Selain itu, saya bisa membuka usaha travel agent. Karena saya memiliki kemampuan dapat berbahasa asing. Saya bisa menjadi guide untuk tamu yang sedang berlibur.

Menurut saya kelebihan sistem pendidikan di Indonesia saat ini adalah membiasakan siswa untuk giat membaca. Seperti yang telah diterapkan literasi di sekolah. Adanya ekstrakurikuler disekolah sebagai sarana untuk menyalurkan bakat dan minat siswa, seperti dibidang olahraga, seni, klub mata pelajaran, dan kewirausahaan. Di sekolah saya terdapat ekstra kewirausahaan yang tujuannya mengajarkan siswa bagaimana caranya memulai usaha. Apalagi pemerintah sekarang sedang menggalakkan agar siswa SMK nantinya bisa memiliki usaha sendiri setelah lulus. Selain itu, di Indonesia lebih sering melakukan tes penilaian kemampuan terhadap siswa. Tujuannya agar guru mengetahui seberapa jauh siswanya mengerti terhadap pembelajaran yang telah diajarkan, dan juga untuk mengetahui di bidang apa saja siswa merasa kesulitan dalam belajar.

Tapi dalam sistem pendidikan di Indonesia ini saya masih merasa ada yang kurang. Banyaknya tuntutan dari guru agar mengerti di semua bidang mata pelajaran, menjadikan siswa merasa terbebani. Karena tidak semua mata pelajaran diminati oleh setiap siswa. Guru lebih aktif dibandingkan siswanya masih sering kita temukan di Indonesia, karena guru lebih banyak menerangkan materi dibandingkan siswa yang aktif mencari tentang pembelajaran. Ini dapat menyebabkan siswa tidak dapat mengembangkan kreativitasnya. Di Indonesia nilai masih segala galanya dibandingkan sikap. Sehingga tak heran jika kita sering melihat siswa yang pintar tetapi tidak memiliki perilaku yang baik. Kurikulum yang berubah – ubah juga menjadi hambatan bagi para siswa dalam belajar.Kurikulum yang ada hanya berdasarkan pengetahuan menteri pendidikan, tanpa mengerti apa saja yang sebenarnya dibutuhkan oleh setiap siswanya. Seperti ketika saya masih di bangku SD, menteri pendidikan menerapkan kurikulum 2006. Dimana sumber belajar siswa hanya melalui buku paket saja. Sedangkan ketika saya SMP meneteri pendidikan menereapkan kurikulum 2013, yang membolehkan siswa membawa gadget ke sekolah sebagai sarana untuk belajar. Dan ketika saya SMK menteri pendidikan menreapkan kurikulum 2013 revisi, dengan tujuan diharapkan siswa mampu lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran. Sehingga siswa menjadi sulit belajar, karena dia harus mengikuti alur materi pembelajaran yang berbeda- beda setiap tahunnya. Kebanyakan metode pembelajaran lebih menekankan untuk menghafal, padahal cara itu sangat tidak tepat untuk diterapkan. Melainkan mengajak siswanya untuk memahami konsepnya.

            Pada data yang saya baca di internet tahun 2015- 2016, 4 urutan teratas ditempati oleh negara – negara Asia, yaitu Korea Selatan di urutan pertama, Jepang ke-2, Singapura ke-3, dan Hong Kong ke-4. Sedangkan Finlandia, menempati urutan ke-5, walaupun pada penelitian sebelumnya di tahun 2012 menempati urutan pertama.

            Jika saya menjadi menteri pendidikan, saya memiliki keinginan untuk memajukan sistem pendidikan di Indonesia. Agar kualitas generasi berikutnya bisa lebih berkualitas dan mampu bersaing dengan negara maju lainnya. Dengan cara lebih menekankan pendidikan di bidang karakter terlebih dahulu sebelum pendidikan ilmu pengetahuan. Saya akan mengambil contoh dari Negara Jepang.  Ketika siswa kelas 1 – 3 SD mereka diajarkan untuk membersihkan kelas, merapikan ruang kelas, menata sepatu, berkata sopan, hadir tepat waktu, berlatih kejujuran dan semua budi pekerti lainnya, juga di latih saling membantu, melayani dan tolong menolong . Sehingga seandainya seorang siswa tidak mau lanjut ke perguruan tinggi karena alasan pribadi mereka, maka merekapun sudah tahu bagaimananya hidup tertib, jujur, bersih, rapih dan beretika moral yang baik di lingkungan masyarakat. Mereka mengajarkan pada saat siswa masih SD, karena mereka percaya bahwa bila telah diajarkan perilaku yang baik sejak dini, maka akan terbiasa hingga dewasa nanti. Berdasarkan  penelitian yang saya pernah baca, masa ini dimana anak sedang mengalami proses perkembangan otak yang sedang pesat – pesatnya.  Alasan lain mengapa Jepang tidak mengajarkan ketika SMP ataupun SMA, karena diusia itu mereka sudah memiliki karakter sifat masing – masing. Cara selanjutnya yaitu sekolah tidak memaksakan siswa untuk mengikuti semua pelajaran. Melainkan mengikuti minat dan  bakat setiap siswa, agar siswa bisa mengembangkan bakat yang mereka miliki. Saya mengambil contoh dari Negara Finlandia. Sepertiga pelajaran di sekolah adalah pelajaran pilihan siswa itu sendiri. Perlu juga melengkapi fasilitas yang ada, agar kegiatan pembelajaran bisa berjalan lancar. Seperti di Negara Korea Selatan, di setiap sekolah sudah ada proyektor, LCD, dan komputer tiap kelas. Lengkapnya fasilitas sangat mempengaruhi kegiatan pembelajaran. Siswa dapat belajar melalui proyektor, LCD, dan computer yang disediakan. Belajar menggunakan media yang lengkap juga dapat meningkatkan semangat belajar. Karena belajar menggunakan teknologi seperti itu tidak membosankan.

            Berdasarkan informasi yang baru – baru ini saya baca, pengangguran yang ada di Indonesia sebagian besar merupakan siswa lulusan SMK. Hal ini disebabkan karena peralatan untuk mengasah kemampuan mereka untuk bekerja ketinggalan zaman dengan negara maju lainnya. Sehingga kemampuan siswa hanya segitu – segitu saja tanpa adanya perkembangan sedikit pun. Lalu sebagian guru SMK kebanyakan mata pelajaran normatif, bukan praktek. Hal ini sangat jelas bertentangaan dengan karakter pendidikan SMK. Padahal seharusnya 70 atau 80 persen itu guru praktek, yang lebih banyak mengajarkan tentang praktek daripada teori. Penyebab lainnya yaitu, kurangnya perkembangan jurusan yang tersedia. Seperti misalnya dari dulu hanya ada sekolah kejuruan mesin, bangunan, dan listrik. Padahal seharusnya jurusan pendidikan kejuruan disesuaikan mengikuti perkembangan zaman dan kebutuhan dunia kerja. Seperti yang dibutuhkan dalam dunia kerja saat ini di bidang jurusan jaringan informasi teknologi, animasi, retail, maupun logistik. Kalau saya menjadi meneteri pendidikan saya pasti akan berusaha menyetarakan peralatan yang ada, agar setara dengan Negara maju lainnya. Sehingga kualitas siswa SMK di Indonesia dapat bersaing di dunia kerja internasional. Hal ini pun dapat mengurangi siswa pegangguran SMK yang ada. Lalu saya akan mengubah yang biasanya mayoritas guru normatif, kini akan lebih banyak adanya guru praktek. Agar siswa bisa lebih mendalami dan banyak melakukan praktek saat jam pembelajaran sesuai bidang kejuruan yang telah mereka pilih.

Salsabila Anandadewi Wilujeng

SMK Negeri 3 Denpasar

Categories: Esai 2019

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *