Oleh: Athiyatus Sholihatul Fadhilah – MAN 1 Kota Malang

Pada zaman modern, globalisasi memiliki pengaruh penting yang tidak dapat dihindari oleh semua negara,termasuk Indonesia. Globalisasi telah berlangsung pada semua sisi kehidupan masyarakat Indonesia mulai dari bidang ekonomi, politik, sosial, budaya dan lain sebagainya. Hal ini memberikan dampak yang begitu besar, seperti berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi, kebudayaan instan, serta pola fikir masyarakat yang semakin maju. (Indiatmoko,2017:122). Namun  dibalik semua itu, apakah kehidupan kita menjadi lebih baik, dan semakin  sejahtera secara lahiriyah maupun batiniyah? Mungkin tidak, bahkan sebaliknya.  Pada kenyataannya, kasus pencurian, tindakan asusila, kekerasan, tawuran, penyalahguanan narkoba, seks bebas semakin terang-terangan dan merajalela dengan insiden yang cenderung naik setiap hari. Kasus ini cepat meluas dan nyaris merata dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Mulai dari kalangan orang-orang yang tidak punya hingga kalangan yang superpunya, dari kalangan terpelajar apalagi yang non pelajar. Bahkan beberapa kasus dianggap “biasa”. Misalnya korupsi, pelecehan seksual, pejabat kekebalan hukum, pelanggaran etika, eksploitasi anak, dan miras-narkoba. (Ardiansyah dan Ayuseite,2018:11). Peristiwa ini kebanyakan bukanlah dilakukan oleh orang-orang yang bodoh, melainkan mereka yang terpelajar dan juga cerdas tetapi tidak memiliki moral yang baik.

Tidak hanya dalam bidang politik, sosial dan budaya,sering kali dunia pendidikan juga mendapat teguran dan sorotan oleh publik karena berbagai macam kasus yang ada di Indonesia salah satunya adalah kenakalan remaja yang sudah merajalela di dunia pendidikan. Banyak kasus kasus yang sering terjadi di Indonesia dan mungkin masih hangat dalam benak kita, seperti guru yang dipukul siswanya hingga tewas, pembulian yang dilakukan antar pelajar,seks bebas yang dilakukan oleh pelajar, aksi merokok yang dilakukan oleh siswi SMP, dan lain sebagainya. Selain itu, banyak juga data data ilmiah yang menyebutkan bahwa Negara Indonesia banyak moral dan karakter para pemuda tidak terkontrol dengan baik. Salah satu data problematika kurangnya moral pemuda , seperti data hasil survei Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2008 menyebutkan 63% remaja dibeberapa kota besar di Indonesia telah melakukan seks pranikah. Survei yang dilakukan Annisa Foundation tahun 2006 menemukan 42,3% remaja Sekolah Menengah Atas (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Cianjur Jawa Barat, pernah berhubungan seks. Selain itu BKKBN juga mensurvei jumlah orang hidup dengan HIV dan AIDS sampai dengan bulan September 2008 tercatat mencapai 15.136 kasus, dimana 54,3% dari angka tersebut adalah remaja. Dari sisi lain, jumlah penyalahgunaan narkoba sebesar 1,5% dari penduduk Indonesia atau 3,2 juta penduduk Indonesia didapati sebagai penyalahgunaan Narkotika Psikotropika dan Zat Adiktif (NAPZA), 72% diantaranya adalah remaja kelompok umur 20-29 tahun.(BKKBN Pusat,2008). Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia sedang berada dalam keadaan darurat, yakni darurat moral terutama pada generasi penerus bangsa.

            Keadaan  ini  menunjukkan bahwa perlu adanya konsep pembelajaran yang baik untuk menekan tingkat kenakalan remaja  baik itu pendidikan karakter maupun pendidikan moral yang sejak dini harus dipahami oleh semua generasi muda agar tidak ada lagi kenakalan-kenakalan remaja yang terjadi di Indonesia.  Hal ini sangat berhubungan dengan  pendidikan moral dan juga pendidikan agama pada generasi muda. Lantas bagaimana keadaan pendidikan moral dan pendidikan agama di Indonesia ? Menurut Dedi Supriadi (dalam Nawawi,2010:3), “Pendidikan budi pekerti dan pendidikan agama pada saat itu (1968-1980-an) dapat dikatakan ‘terpinggirkan’ oleh haru-biru semangat Pendidikan Moral Pancasila.” Bagaimana pada tahun 2000-2019 an sampai sekarang? Apakah pendidikan budi pekerti dan pendidikan agama masih juga terabaikan?

Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa satu penyebab darurat moral  adalah karena telah terabaikannya “Pendidikan Moral” (dalam pengertian pendidikan agama, budi pekerti, akhlaq, nilai moral) bagi generasi penerus. Fakta ini dapat terlihat dari komposisi pendidikan agama pada SD,SMP, SMA hanya sekitar 2-4 jam perminggu berbanding jauh dengan komposisi pengetahuan umum yakni sekitar 34 jam per minggu. (Nawawi, 2010:3). Maka dari itu, tidaklah mungkin anak sebagai generasi penerus bangsa akan mendapatkan moral yang tinggi, agama yang kokoh serta budi pekerti yang baik hanya dengan ilmu agama (pendidikan nilai moral) 4 jam pelajaran dalam seminggu.  Akhirnya agama hanya dibibir, belum menjadi penghayatan dan pengamalan. (Nawawi, 2010:3).  Padahal seharusnya, pendidikan moral dan juga pendidikan agama harus diajarkan setiap hari, ditanamkan dalam sanubari generasi muda, serta dicontohkan dengan baik oleh para pengajar di Indonesia. Hal ini diharapkan dapat menjadi pedoman bagi generasi penerus bangsa sehingga dapat dihayati dan juga diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, andai saya menjadi menteri pendidikan, saya akan memprioritaskan pendidikan moral atau setidakanya sebanding dengan ilmu pengetahuan umum. Karena  apabila generasi penerus bangsa memiliki moral yang tinggi,ilmu pengetahuan yang baik, serta agama yang kokoh maka akan melahirkan generasi peradaban yang tidak hanya cerdas namun berakhlaqul karimah sehingga dapat membentengi diri sendiri dari pengaruh pengaruh buruk globalisasi dan juga dapat mengurangi darurat moral di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Ardiansyah, Evan dan Ayusetie.2018.Ayah, Bunda Jangan Biarkan Aku Sendiri,Kendal: Ernest.

BKKBN.2008.Kebijakan dan Strategi Nasional Kesehatan Reproduksi Remaja di Indonesia : Jakarta.

Indratmoko, J Agung.”Pengaruh Globalisasi Terhadap Kenakalan Remaja di Desa Sidomukti Kecamatan Mayang Kabupaten Jember”,Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, III(1) (Maret,2017). Nawawi, Ahmad.2010.”Pentingnya Pendidikan Nilai Moral Bagi Generasi Penerus”, Sripsi Jurusan Pendidikan Luar Biasa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan  Indonesia Bandung:2010.

Categories: Esai 2019

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *