Oleh: Abdi Ardiansyah – SMAN 8 BULUKUMBA

Nelson Mandela pernah mengatakan“Pendidikan adalah senjata paling hebat yang kamu dapat gunakan untuk mengubah dunia”. Berdasarkan quote yang sangat mencengangkan dari Nelson Mandela, dapat kita interpretasikan bahwa pendidikan merupakan kunci utama dalam mengubah dunia. Mengubah dunia dalam aspek apa? Tentunya banyak. Saat ini Indonesia akan mengalami kebangkitan untuk kedua kalinya setelah kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 yaitu 100 tahun Indonesia merdeka pada tahun 2045. Inilah yang menjadi latar belakang bagi generasi Z khusunya para pelajar untuk menciptakan pencapaian yang gemilang dan menjadikan Indonesia menjadi maju. Indonesia pada saat ini sudah bisa dikatakan umurnya sudah tua dan rentan terkena penyakit dari luar oleh karena itu untuk proses persaingan global apabila kita jalan ditempat secara terus menerus maka kita akan tertinggal sangat jauh dalam perkembangan IPTEK dan perilaku moral generasi penerus bangsa. Apakah kita bisa menghadapi Indonesia di usianya yang akan menginjak 100 tahun untuk kedepan? Tentunya apabila kita berdiam diri maka kebuncahan pelajar akan meningkat secara terus menerus.

Inilah saat yang tepat bagi para pejabat pendidikan untuk menata sebaik-baiknya pendidikan di Indonesia. Dalam beberapa tahun belakangan ini pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla telah memfokuskan pembangunan terhadap insfrastruktur di berbagai bidang khususnya dibidang pendidikan. Presiden Joko Widodo pun berkata bahwa percepatan pembangunan infrastruktur adalah ikhtiar kita untuk membangun fondasi yang kokoh, menuju Indonesia yang lebih maju. Sejak 2015, pemerintah mengalihkan belanja subsidi menjadi belanja produktif, yakni pembangunan infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan yang terus meningkat dari Rp 155 triliun pada 2014 menjadi Rp 410 triliun pada 2018. Dengan melihat perkembangan infrastruktur yang telah mengalami kemajuan maka sudah sepatutnya kualitas pelajar Indonesia meningkat.

Memang infrastruktur di Indonesia telah meningkat. Namun, melihat penelitian mengenai pendidikan yang dilakukan oleh Lant Pritchett,  seorang professor dari Universitas Harvard yang mengatakan bahwa Indonesia tertinggal sekitar 128 tahun dari negara berkembang dan maju lainnya dalam sistem pendidikan. Suatu pencapaian yang sangat panjang apabila kita berdiam diri secara terus menerus tanpa memperhatikan suara kontra terhadap sistem pendidikan Indonesia saat ini. Apabila kita melirik negara maju lainnya seperti Jepang, tilikan pertama saya adalah  kagum. Mengapa demikian? Hal ini akan terjawab ketika kita melihat perbedaan gaya belajar Jepang dan Indonesia. Indonesia saat ini dapat diibaratkan membuang potensi otak dengan aturan sendiri sehingga menimbulkan penyakit internal pendidikan dalam negeri.

Berikut adalah beberapa perbedaan Indonesia dan Jepang yang dimana aturan ini dapat diterapkan di Indonesia, karena konsekuensinya mereka berhasil dengan penerapan itu, mengapa tidak untuk Indonesia?

1. Pendidikan moral

Pendidikan moral sangat penting bagi kehidupan masyarakat di kalangan remaja khusunya pelajar yang merupakan generasi millenial dimana kita dituntut untuk berperilaku terpuji dalam menghadapi interaksi di lingkungan masyarakat sekitar. Jepang pada saat proses belajar mengajar mereka lebih mengutamakan penguatan karakter dengan moral yang baik sejak dini. Namun, semangat yang tadinya saya rasakan dalam menghadapai era globalisasi berkobar tinggi, kini harapan itu menjadi abu bekas pembakaran yang hilang terhempas angin. Mengapa saya katakan demikian? Kita bisa melihat keadaan pelajar saat ini baik di kehidupan sehari-hari maupun di dunia maya, dalam berinteraksi bisa kita katakan etikanya sangat kurang, kata-kata kasar keluar dengan cepat, saling mencela terjadi dimana-mana, kasus bullying yang semakin merajalela. Membuat rasa persaudaraan dan solidaritas hilang. Oleh karena itu untuk menjemput Indonesia 100 tahun merdeka maka penguatan karakter di utamakan, walapun kurikulum 2013 lebih mengutamakan penguatan karakter namun, faktanya masih banyak kasus-kasus yang bertebaran diluar sana yang terkait dengan perilaku tercela dikalangan pelajar.

2. Kualitas guru

Dalam proses belajar mengajar tentunya diperlukan seorang guru sebagai objek pengajar ke[ada peserta didik. Namun dalam metode belajar fakta yang saya temukan berdasarkan pengalaman dan kajian literatur adalah  guru yang mengajar sekarang hanya mengajarkan sebatas teori saja dengan praktek yang tidak maksimal hal ini membuat peserta didik menjadi semakin bosan karena pada saat belajar hanya berada di dalam kelas saja. Apabila kita melihat negara Jepang memang menyeimbangkan praktek dan belajar di kelas sehingga kemampuannya untuk berinteraksi di lingkungan sosial semakin baik. Guru juga dituntut agar peserta didik tidak down dan harus membuat mereka terhibur dengan bidang studinya.

3. Waktu belajar

Waktu belajar Indonesia dan Jepang dapat dikatakan berbeda   karena waktu belajar di Jepang lebih sedikit dibandingkan waktu belajar di Indonesia. Dengan diterapkannya full day school,waktu belajar di Indonesia mencapai kurang lebih 7-8 jam khusunya pada tingkat SMA. Tapi kenapa bisa? Padahal waktu belajar Jepang lebih sedikit. Ini mungkin yang perlu dipahami bagi pemerintah bahwa pada umumnya peserta didik yang melakukan proses belajar yang sangat lama, maka mereka akan mengalami stress berat, waktu istirahat yang kurang dan akan timbul rasa benci dengan sekolah yang disebabkan oleh waktu yang sangat panjang. Hakikat sekolah adalah tidak menuntut pelajar untuk frustasi melainkan kita harus fun serta semangat, karena apabila siswa stress maka pelajaran juga akan sukar untuk dipahami.

Jika diamati kembali, pendapat saya terhadap pendidikan di Indonesia sekarang dapat dikatakan sebagai pendapat negatif serta komentar yang bersifat kebencian. Tapi, perlu di garis bawahi bahwa saya sebagai warga negara Indonesia, pelajar Indonesia, generasi penerus bangsa Indonesia tentu tidak ingin membiarkan negara ini semakin tertinggal. Apalagi penyebabnya berasal dari dalam tubuh negeri ini sendiri dan inilah yang menjadi PR khusus bagi para pemangku pendidikan di Indonesia.

            Akhir kata, “andai” dan “namun” terus terucap. Sebuah mimpi dan harapan yang sempurna tidak akan pernah berujung menjadi nyata apabila kita tidak melangkah mulai dari sekarang. Mari kita mengajak seluruh pelajar Indonesia untuk melangkahkan kaki agar Indonesia lebih maju untuk kedepannya demi bersaing dengan negara-negara elit dunia lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

INDONESIA, M. K. (2018, 10 24). www.kemenkeu.com. Retrieved 5 5, 2019, from Kementerian Keuangan: https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/berita/ini-capaian-pembangunan-infrastruktur-indonesia/

Maura, A. (2018, 6 8). https://blog.ruangguru.com. Retrieved 5 5, 2019, from ruangguru: https://blog.ruangguru.com/sistem-pendidikan-indonesia-gawat-darurat

Categories: Esai 2019

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *