Oleh: Alinda Berliana Putri – SMAN1 Kersana Brebes

Yang menjadi pertanyaan bagaimana cara kita memanfaatkan bakat dan kemampuan yang kita miliki, sedangkan banyak anak negeri yang tidak mengetahui bakat apa yang ada di dalam dirinya? Menurut survey yang saya lakukan ini disebabkan karena sejak kecil Pendidikan kita hanya mementingkan nilai akademis yang tinggi bahkan tanpa memperdulikan bagaimana cara para siswa mendapatkan nilai tinggi tersebut. Kebanyakan dari Pendidikan kita menganggap bahwa nak yang otak kirinya lebih dominan merekalah yang diistimewakan. Padahal tidak bisa disamakan kalua semua anak harus dominan pada otak kirinya, ada juga yang otak kanannya lebih dominan dari otak kiri artinya mereka lebih aktif dalam hal imajinasi,kreatifitas, subjektifitas, dan juga seni. Padahl jika anak tersebut kemampuannya diasah sejak dini mereka bias menjadianak kebanggan negeri. Kenapa tidak sejak dini sekolah mengarahkan anak-anak pada apa yang sebenarnya mereka miliki? Bukankah jika anak mengetahui apa kemampuan dan bakat yang dapat ia kembangkan sejak dini akan membuat kemungkinan dia sukses lebih tinggi?

            Jika saya menjadi Menteri Pendidikan saya ingin mendirikan dan menerapkan program sekolah berbasis Universitas. Karena pada faktanya dominan otak pada setiap anak berbeda-beda ada yang dominan kiri yaitu aktif logika, hitungan, Analisa, urutan, bahkan angka-angka dan yang dominan kanan yaitu aktif pada kreativitas, imajinasi,  seni, bahkan dimensi.

Sekolah ini bias kita sebut sekolah minat bakat. Sekolah minat bakat ini berbeda dengan SMK atau Sekolah Menengah Kejuruan. Jadi, minimal sejak siswa duduk dibangku SMP atau Sekolah Menengah Pertama harus sudah mengetahhui bakat dan kemampuan apa yang ia miliki sehingga sejak dini siswa sudah diajarkan untuk bekerja keras agar mengenali jati dirinya masing-masing. Setelah siswa tersebut menemukan dan mengenali jati diri mereka dengan sendirinya mereka akan menengali bakat dan kemampuan apa yang mereka miliki dan apa yang harus mereka lalukan kedepannya agar bias menjadi orang sukses dengan memanfaatkan bakat atau  passion yang mereka miliki. Seteah mereka mengerti apa yang menjadi kemampuan mereka entah itu dibidan akademik maupun non akademik siswa tersebut akan diarahkan dan difokuskan untuk mengenal dasar-dasar dari baka yang mereka miliki tanpa melupakan mata pelajaran umum seperti Bahasa Indonesia, Matematika, Pendidikan kewarganegaraan, Bahasa Inggris, dan Pendidikan Agama. Serta boleh jadi pada saat Ujian Nasional diselipakan pula pada mata pelajaran bakat  dan kemampuan itu sendiri sesuai dengan bakat dan kemampuan peranak.

            Pada saat anak tersebut lulus dari Sekolah Menengah Pertama, ia akan melanjutkan ke jenjang yang kebih tinggi yaitu Sekolah Menengah Atas. Di Sekolah Menengah atas pun akan menerapkan sistem yang sama seperti pada Sekolah Menengah Pertama, bahkan saya ingin ketika kelulusan,bukan hanya ijazah yang kan didapatkan namun juga semacam kertas atau sertifikat berisi penilaian dan perkembanga siswa tersebut terhadap bakat yang ia miliki sesuai dengan pilihannya dan nantinya ijazah dan sertifikat tersebut yang akan menjadi pertimbangan apakah nantinya siswa tersebut akan diterima atau tidak. Jadi disekolah menengah atas sudah mulai menerapkan system seperti pada Universitas  yaitu ada semacam fakultas dan jurusan masing-masinng. Dari  mulai pendaftaran yang harus disaring melalu beberapa test dan menggunakan nilai raport atau sertifikat dari kemampuan anak itu sendiri untuk dikelompokkan kedalam kelas masing-masing,sampai mata pelajaran yang difokuskan kepada bakat atau kemampuan yang anak tersebut miliki.

            Misalnya si A mempunyai bakat dibidang seni melukis, maka jika pada saat si A duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama sudah diajarkan dasar-dasar tentang seni lukjis itu sendiri yang tentu saja tanpa melupakan lima meta pelajaran umum yang tadi sudah disebutkan. denganmetode seperti ini saya yakin kualitas berbagai perlombaan di Indonesia akan semakin baik karena setiap pesertanya merupakan orang-orang yang sudah ahli dalam bidang yang diperlombakan dan nantinya akan menghasilkan juara-juara yang berkualitas tinggi dan mampu bersaing di kancah Internasional.

            Bisa dilihat beberapa contoh yang memperlihatkan keberhasilan anak negeri yang dimulai karena ia sudah diarahkan kepada bakatnya sejak kecil. Sebut saja atlet Bulu Tangkis ganda putra nomor 1 dunia Kevin Sanjaya Sukamuljo, putra bangsa kelahiran Banyuwangi,Jawa Timur ini sejak kecil sudah dikenalkan dengan bakatnya yaitu dalam dunia Bulu Tangkis, ia berlatih sejak masih duduk dibangku sekolah dasar. Berlatih terus menerus sampai akhirnya menerima beasiswa Bulu Tangkis oleh PB Djarum Kudus, hingga sekarang ia bias menjadi sosok yang sangat inspiratif dan membanggakan negara.

            Oleh karena itu, jika saya menjadi Menteri Pendidikan saya ingin menerapkan program berupa sekolah minat dan bakat yang merata di Indonesia dan bukan hanya di kota-kota besar saja. Karena saya yakin di pelosok desa pun banyak calon-calon bintang yang dapat membanggakan negeri jika ia diasah dan difasilitasi sejak dini.

Categories: Esai 2019

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *