Oleh: Andi Ahyar Almuhajir – SMA Negeri 5 Gowa

Sejak awal Indonesia telah terlahir sebagai negara yang spesial, ialah negara kepulauan dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia. Terletak diantara dua benua besar serta diapit oleh Samudra Hindia dan Pasifik menjadikan Indonesia negara dengan letak geografis yang sangat strategis. Ditambah dengan berbagai keragaman suku bangsa, bahasa, dan agama sehingga memperluas kekayaan Sosial Budaya yang dimiliki.

Kenyataan tersebut membuka peluang untuk dapat terciptanya kemakmuran, kehormatan, dan kesejahteraan rakyat. Namun, hal tersebut tidak bisa secara langsung diperoleh, diperlukan juga pengendalian yang cepat dan tepat di semua sektor, tanpa terkecuali bidang Pendidikan.

Pendidikan diperlukan oleh setiap warga negara, mulai dari usia dini, usia remaja, sampai orang dewasa. Seluruh Pendidikan yang diselenggarakan di Indonesia menjadi tanggung jawab Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Dalam UU RI No.20 Tahun 2003, Pendidikan Nasional bertujuan untuk menjadikan peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Terdapat berbagai wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan. Salah satu jalur pendidikan yang menjadi fokus perhatian ialah jalur Pendidikan Formal.

Indonesia selama ini dikenal dengan paradigma Pendidikan yang sangat menekankan pada akademik mengejar nilai akhir sempurna. Setidaknya ada dua hal yang layak kita perhatika guna bersama memajukan Pendidikan Indonesia saat ini.

Yang pertama, menyangkut peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pembahasan sumber daya manusia merupakan masalah yang sangat penting dalam kehidupan, karena kelak pelajarlah yang akan berperan sebagai penggerak, pemikir, dan perencana untuk mencapai kemajuan negeri.

Kualitas penduduk atau mutu sumber daya manusia sangat berpengaruh terhadap tingkat kemajuan suatu negara. Bagaimanapun baiknya program pendidikan, namun tujuan dan sasaran pendidikan tidak mungkin diwujudkan apabila manusia-manusia yang melaksanakan pendidikan itu tidak memiliki kualitas yang bagus. Termasuk didalamnya pembinaan akhlak serta mental yang memadai.

Kita adalah keturunan bangsa pejuang, yang kental dengan nilai-nilai perjuangan, patriotisme, gotong royong dan juga prestasi. Namun kini makna prestasi mulai memudar, terganti oleh aksi-aksi destruktif seperti tawuran, demonstrasi yang anarkis, merusak fasilitas publik . Dengan dalih memperjuangkan sesuatu, padahal menginjak-injak hak orang lain. Menyebabkan degradasi moral besar-besaran terkhusus pada kaum pelajar.

Ini menunjukkan bahwa pembinaan Akhlak sangat dibutuhkan di dunia Pendidikan dalam rangka membangun adab yang berakhlak karimah, dibutuhkan pembinaan yang baik melalui metode yang baik pula. Salah satunya dengan membangun kebiasaan yang sesuai dengan nilai-nilai agama dan persatuan bangsa. Pembiasaan berkata jujur, beretika, sopan, berpikir positif, dan lain sebagainya guna menciptakan kader-kader pemimpin yang berkarakter dan mampu bersaing di tingkat global. Sesungguhnya materi seperti ini telah mulai diajarkan di beberapa sekolah walau hasilnya belum sepenuhnya maksimal. Di sisi lain Pendidikan Karakter harus tetap menjadi fokus perhatian, yang perlu kita tingkatkan adalah pengaplikasianya dalam kehidupan sehari-hari.

Yang kedua yang perlu diperhatikan ialah, mengenai sistem pendidikan itu sendiri. Perubahan program pendidikan kita telah terjadi cukup lama. Dapat kita amati dalam beberapa tahun saja terjadi banyak kali perubahan sistem pendidikan dengan munculnya kebijakan-kebijakan seiring dengan bergantinya pemerintahan. yang mana ketidakstabilan ini berefek terhadap proses belajar peserta didik di sekolah, dan tentunya juga akan mempengaruhi hasil belajar.

Selama ini, setiap pemerintahan dalam hal pendidikan sepertinya masih mempunyai selera masing-masing. Kita perlu mengupayakan agar kebijakan terkait pendidikan tidak dijadikan ajang kepentingan politik sesaat. Tidak mungkin dalam satu periode satu pemerintahan itu bisa menyelesaikan seluruh permasalahan pendidikan. Jangan kita jadikan program pendidikan itu program pemerintahan saat itu saja.

Seharusnya, pogram pendidikan, hendaknya dijadikan sebagai kebijakan lintas pemerintahan dan lintas generasi berskala nasional serta berkelanjutan. Bukan semata-mata program pemerintahan yang periodik.

Kita perlu membuat komitmen bersama untuk tidak melibatkan politik di dalam pendidikan, yang menjadi pemimpin bangsa ini seharusnya tidak merubah kebijakan pendidikan yang telah menjadi keputusan bersama, harus diteruskan serta ditingkatkan sesuai karakteristik pendidikan yang ada.

Hal-hal seperti ini memang tak dapat terelakkan, tetapi jangan sampai menyurutkan semangat kita, sebagai warga negara, untuk mengenyam pendidikan. Setinggi, sejauh, dan seluas apapun. Karena tujuan Pendidikan Nasional tidak akan tercapai apabila tidak didukung dengan sistem pendidikan negara Indonesia yang baik dan sumber daya manusia yang unggul. Pendidikan harus menjamin peserta didik mampu mengaplikasikan ilmu yang diperolehnya.

Andai aku menjadi Menteri Pendidikan, mungkin aku juga tidak yakin mampu merubah Indonesia, tapi aku yakin melalui bangsa yang berpendidikan, Indonesia mampu merubah dirinya sendiri. Bapak Anies Baswedan berkata “Kekayaan terbesar sebuah bangsa adalah manusianya..”, maka manusia itulah yang akan membawa Indonesia ke era yang lebih baik, ke arah negara yang sejahtera, Negara Jaya Tanah Air Indonesia. Salam Pendidikan!

Categories: Esai 2019

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *