Oleh: Nurlita Agustiningsih – SMAN 1 Garut

Ilmu pengetahuan terus berkembang, informasi semakin mudah di akses dan isu kesenjangan gender semakin mencuat ke masyarakat yang bahkan masuk ke dalam 17 Point Sustainable Developments Goals seakan masih diabaikan. Padahal dengan adanya perkembangan di bidang teknologi informasilah yang menyebabkan perubahan struktur nilai kehidupan baru memungkinkan untuk isu kesetaraan gender semakin mencuat dan berhak diperjuangkan.

            Isu ini sempat di bahas pada International Convention of Population and Development (ICPD), Cairo pada tahun 1994 yang menjelaskan bahwa tiga perempat dari penduduk yang buta huruf di dunia adalah perempuan dan dua pertiga penduduk tersebut berasal dari kawasan Asia . kesenjangan ini pun masih terjadi dengan data yang di kutip dari BPS  menyatakan bahwa pada 2018 angka buta huruf di Indonesia yaitu 2,44% adalah laki – laki dan 5.42% merupakan perempuan. Akibatnyaa kesenjangan gender dalam pendidikan menyebabkan perempuan merupakan segmen di masyarakat yang belum optimal pemberdayaanya. Peran – peran gender di masyarakat hakikatnya merupakan suatu konstruksi sosial yang menyangkut antara hubungan laki – laki dan perempuan dan di pengaruhi oleh nilai – nilai budaya. Namun masyarakat kita masih berpasrah diri dengan adanya kontruksi sosial yang merugikan tersebut. Ilmu dan teknologi terus berkembang, manusia seharusnya dinamis mengikuti perkembangan yang ada bukannya mendiamkan kontruksi sosial tersebut masih bertahan dan mengakibatkan kualitas hidup relatif perempuan lebih rendah di bandingkan laki – laki.

            Masalah lain yang kita hadapi adalah kurangnya sumber daya manusia yang mumpuni dalam pengolahan sumber daya alam di Indonesia. Hal ini di buktikan oleh peringkat  Indonesia dalam penelitian yang berjudul IMD World Talent Report 2015 yang turun sampai 16 peringkat dari peringkat ke-25 pada tahun 2014 menjadi peringkat ke-41. Salah satu faktor penyebabnya adalah kurangnya kesiapan sumber daya manusia yang merupakan hal paling berpengaruh dalam menyumbang angka penurunan peringkat tenaga terampil Indonesia.

            Sebagaimana salah satu karakteristik kurikulum 2013 yang di rancang agar siswa dapat menerapkan apa yang dia pelajari di sekolah ke lingkungan masyarakat, namun bagaimana mau di implementasikan ke masyarakat jika kondisi yang di ajarkan secara teoritis malah tidak sesuai dengan realita yang terjadi di lingkungannya. Selama ini pendidikan kita terlalu terpacu pada kota – kota besar. Materi yang diajarkan pun belum merata.

            Maka dari itu peranan otonomi daerah dalam pendidikan seharusnya di optimalkan disini. Mata Pelajaran Prakarya/Kewirausahaan yang ada selama ini di fokuskan terhadap  bagaimana cara kita sebagai siswa dalam upaya pengoptimalan sumber daya alam yang ada di sekitar kita.

Untuk menjawab segala masalah tersebut, seorang guru harus diciptakan menjadi seorang influencer atau orang yang mampu mempengaruhi siswanya ke arah pendidikan yang berwawasan gender sekaligus mengarahkan siswanya agar lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Adapun metode belajar yang dirasa cocok untuk menghadapi masalah yang telah dipaparkan yaitu metode contextual teaching and learning dimana siswa diarahkan untuk membangun pengetahuan baru lewat kejadian dan pengalaman yang mereka alami. Dengan adanya metode ini siswa diajarkan menjadi seorang yang kritis dan mampu mengkaji ulang segala fenomena yang terjadi dan tentunya dibantu oleh guru sebagai pengarah dan pemberi pengaruh agar siswa tetap berkembang dan berjalan sebagaimana mestinya.

Adanya otonomi daerah bidang pendidikan pun mengharuskan setiap sekolah mengajarkan siswanya melihat keadaan sekitar menjadikan siswa peka terhadap lingkungannya. Semisal jika dia tinggal di daerah Pantai maka pelajaran prakarya yang diajarkan terfokus pada bagaimana pariwisata di pantai itu bekerja, hasil-hasil alam apakah yang ada di daerah pantai dan bagaimana pengolahan hasil dari pantai tersebut bekerja. Bukan tidak mungkin jika siswa sudah tau dan paham terhadap lingkungannya, siswa akan lebih tertarik untuk memajukan daerahnya sendiri, pemerataan pemilihan jurusan kuliah pun akan terjadi dan tentunya jenis pekerjaan yang adapun nanti beragam. Sebagaimana istilah “Tak kenal maka tak sayang” bagaimana seorang individu akan mencintai lingkungannya jika dia sendiri tidak mengetahui kondisi lingkungannya saat ini.

            Dengan metode yang sama, siswa akan diarahkan oleh guru untuk mengkaji ulang struktur sosial yang selama ini ada di masyarakat, salah satunya adalah isu kesetaraan gender. Karena percuma saja jika siswa sudah mengenal kondisi lingkungan, tertarik memajukan lingkungannya dan juga mampu dari segi sumber daya manusia namun terhalang dengan stereotype “perempuan mana boleh menjadi seorang nelayan” atau “laki – laki tidak cocok jadi seorang perancang busana”  tentunya akan menurunkan semangat siswa tersebut dalam meraih cita-citanya dan menghambat perkembangannya.

Oleh karena itu tiadanya bias gender dan penerapan kurikulum berbasis otonomi daerah dapat memberikan kesempatan baik kepada laki – laki maupun perempuan untuk meningkatkan potensi, dan membuka peluang sebesar – besarnya untuk memajukan Indonesia tanpa takut terhadap struktur sosial yang berkembang saat ini.

Categories: Esai 2019

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *