Oleh: Arvin Jastin Fayyad – SMAN 1 Mataram

Menteri Pendidikan merupakan pekerjaan yang paling penting dalam sebuah negara. Menteri Pendidikan mengatur seluruh sistem pendidikan sebuah negara. Tanpa Menteri Pendidikan, keberlangsungan sebuah negara tidak dapat terjamin. Oleh karena itu dibutuhkan seorang Menteri Pendidikan yang berkompeten. Maka dari itu, jika saya seorang Menteri Pendidikan, hal pertama yang akan saya lakukan adalah mengganti sistem pembelajaran di Indonesia.

Menurut saya sistem pembelajaran di Indonesia masih kurang efektif dan kurang berdampak. Salah satunya adalah jam belajar sekolah. Jika dibandingkan pada negara-negara maju, contohnya seperti Jepang, Indonesia memiliki jam belajar sekolah yang lebih banyak. Jika kita bandingkan jam belajar anak SMA di Indonesia sekitar 7 jam sehari mulai dari jam 7 pagi hingga jam 2 siang, lalu hanya memiliki 1 hari libur yaitu tiap Hari Minggu. Sedangkan di Jepang, jam belajar anak SMA juga sekitar 7 jam yaitu dari jam 9 pagi hingga jam 4 sore, tetapi memiliki 2 hari libur tiap minggunya yaitu hari Sabtu dan Minggu. Selain itu, waktu liburan sekolah di Indonesia juga lebih sedikit dibandingkan Jepang. Di Indonesia anak SMA di sekolah saya hanya mendapatkan libur selama 2 minggu tiap kenaikan kelas dan akhir semester. Sedangkan di Jepang memiliki lebih banyak waktu liburan sekolah, seperti libur musim panas selama 1 bulan, libur musim dingin, dan lainnya. Meskipun Indonesia memiliki lebih banyak jam belajar, mengapa anak-anak sekolah Indonesia masih kalah saing dengan negara-negara maju seperti Jepang?

Hal itu cukup menarik perhatian saya sehingga saya mulai tertarik dan mulai mencari tahu sistem pembelajaran yang dipakai di negara lain dan saya jadikan referensi dalam esai ini. Jawabannya sangat simpel, menurut saya salah satu cara untuk menjadi cerdas adalah bukan dengan cara belajar lebih banyak dan lebih lama dari orang lain, melainkan dengan cara belajar dengan efisien, yaitu dengan cara mengorbankan sedikit waktu untuk belajar yang berkualitas dengan tujuan mencapai hasil yang maksimal.

Jika dari yang saya lihat saat ini, Indonesia masih memiliki sistem pembelajaran yang kurang efektif. Siswa SMA disuruh masuk mulai jam 7 pagi hingga jam 2 siang, namun hasilnya bukan nilai maupun ranking yang bagus, yang ada hanyalah rasa letih, stress, beban, dan tekanan untuk meraih nilai yang bagus. Selain itu dalam pengalaman saya, jam kosong sekolah di Indonesia cukup banyak, sehingga banyak waktu yang terbuang sia-sia. Maka ketika ulangan, tidak heran jika banyak siswa yang mendapat nilai yang jelek. Selain itu, SMA di Indonesia mempunyai sekitar 13 mata pelajaran mulai dari kelompok wajib hingga peminatan dan semua siswa dituntut untuk meraih nilai sempurna di setiap mata pelajaran, Siswa yang bagus di mata pelajaran matematika namun jelek di mata pelajaran seni budaya akan dicap sebagai orang yang cerdas. Namun jika sebaliknya maka akan dicap sebagai orang bodoh. Keseimbangan antar berbagai mata pelajaran kurang dirasakan di Indonesia. Mungkin memang betul bahwa pelajaran matematika lebih sulit untuk dipahami dibandingkan dengan pelajaran seni budaya sehingga jika orang bagus dalam matematika akan dibilang orang yang pintar. Namun pelajaran seni budaya juga tidak kalah penting dengan pelajaran matematika. Selain itu, pendidikan di Indonesia juga menerapkan sistem ranking, dimana murid diurutkan berdasarkan kemampuan akademisnya mulai dari paling bawah hingga ke atas. Menurut saya, hal ini justru menimbulkan dampak buruk pada murid. Contohnya, murid yang mendapatkan ranking bawah akan merasa dirinya tidak berkemampuan sehingga mereka akan melakukan segala cara agar mendapatkan ranking meskipun mereka mengetahui bahwa hal tersebut merupakan hal yang buruk, contohnya seperti menyontek. Ada juga yang cenderung untuk pasrah dan patah semangat lalu menyerah dalam belajar. Hal ini merupakan salah satu penyebab mengapa Indonesia tidak maju-maju. Untuk itu, jika saya menjadi Menteri Pendidikan Indonesia, saya akan membuat sistem pendidikan yang memandang seluruh murid setara dan menghilangkan sitem ranking. Contohnya seperti di Finlandia. Finlandia tidak memberlakukan pemeringkatan dalam institusi pendidikan. Mereka menganggap bahwa seluruh siswanya setara dalam haknya untuk mendapatkan pendidikan. Hal ini membuat siswa merasa tidak terdiskriminasi dengan orang lain sehingga mereka dapat menuntut ilmu tanpa beban sedikitpun. Oleh karena itu, tidak heran jika Finlandia dinobatkan sebagai salah satu negara yang mempunyai sistem pendidikan terbaik di dunia.

Selain itu saya juga akan membahas mengenai guru. Guru sejarah di sekolah saya memberi tahu saya hal ini. Setelah Hiroshima dan Nagasaki di bom oleh Amerika dan Jepang kalah perang, hal pertama yang dipertanyakan oleh pemimpin Jepang bukanlah berapakah jumlah korban melainkan berapakah jumlah guru yang tersisa. Berapakah jumlah guru tersisa yang dapat mendidik calon pemimpin bangsa ini. Lalu beberapa tahun kemudian ada banyak produk-produk dan merk atau brand dari berbagai bidang yang bermunculan di Jepang yang populer di dunia hingga saat ini, seperti Honda, Suzuki, Yamaha, Nikon, Sony, dan masih banyak lagi. Jepang sangat memperhatikan pendidikannya, sehingga meskipun kalah perang Jepang dapat bangkit dan negaranya pun menjadi maju. Oleh karena itu, jika saya menjadi menteri pendidikan di Indonesia saya akan mulai memperhatikan pendidikan di Indonesia dengan lebih menghargai profesi guru.

Salah satu hal yang ingin saya perbaiki adalah gaji guru. Jika kita lihat sekarang guru di Indonesia hanya mendapat gaji sebesar 3 juta dan masih banyak guru honorer yang mendapatkan gaji yang sedikit, sedangkan di negara-negara lain guru mendapat gaji sebesar belasan juta rupiah. Hal ini menunjukan bahwa profesi guru kurang dihargai di Indonesia. Tidak heran jika sekarang di Indonesia anda menanyakan cita-cita seorang anak, tidak banyak yang ingin menjadi guru. Guru seharusnya mendapatkan tunjangan yang lebih banyak, mengingat guru mempunyai peran dan jasa yang sangat besar dalam mendidik anak muridnya sehingga bisa menjadi orang yang sukses. Pemerintah seharusnya lebih memprioritaskan untuk mengalokasikan dana lebih banyak dalam pendidikan, termasuk gaji guru, karena pendidikan akan berpengaruh pada anak bangsa yang nantinya akan memimpin negara ini.

Kesimpulannya, Indonesia mempunyai sistem pendidikan yang masih kurang baik. Jika dibandingkan dengan negara lain, negara Indonesia masih kalah saing dalam bidang pendidikan. Oleh karena itu, peran seorang Menteri Pendidikan yang berkompeten sangatlah dibutuhkan. Seorang Menteri Pendidikan yang mengetahui apa yang kurang dalam pendidikan negaranya dan bersedia melakukan apapun untuk memperbaikinya. Jika saya menjadi Menteri Pendidikan tersebut, saya akan memperbaiki hal-hal sebelumnya yang telah saya sampaikan dalam esai ini. Saya yakin, setelah hal-hal tersebut dapat diperbaiki dan ditingkatkan lagi, Indonesia akan selangkah lebih maju menuju kemakmuran.

Categories: Esai 2019

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *